Namanya mulai dikenal luas ketika memimpin sejumlah operasi militer, termasuk dalam penugasan di Timor Timur dan berbagai operasi pengamanan nasional pada era 1980 hingga 1990-an. Kariernya terus menanjak hingga dipercaya menjadi Komandan Jenderal Kopassus pada (1995) dan Panglima Kostrad pada (1998), posisi yang sangat strategis di tubuh TNI.
Namun perjalanan kariernya tidak lepas dari kontroversi. Krisis politik dan pergantian kekuasaan pada (1998) menjadi titik balik besar dalam hidupnya. Prabowo diberhentikan dari dinas militer setelah Dewan Kehormatan Perwira melakukan pemeriksaan terkait peristiwa penculikan aktivis menjelang reformasi. Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian paling kontroversial dalam perjalanan hidup politik dan militernya.
Membangun Pengaruh Lewat Politik
Setelah cukup lama berada di luar panggung nasional, Prabowo kembali membangun pengaruh melalui jalur bisnis dan politik. Dia mendirikan Partai Gerindra pada (2008), partai yang kemudian berkembang menjadi salah satu kekuatan politik utama di Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, Gerindra berhasil memperluas basis dukungan hingga ke akar rumput dengan mengusung narasi nasionalisme ekonomi, ketahanan pangan, dan kemandirian bangsa.
Prabowo tercatat tiga kali mengikuti kontestasi Pilpres. Pada (2009), Dia maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri. Kemudian pada Pilpres (2014) dan (2019), Dia menjadi calon presiden dan berhadapan langsung dengan Joko Widodo. Meski mengalami kekalahan dalam dua kontestasi tersebut, pengaruh politik Prabowo justru terus tumbuh.
Dari Rival Politik Menjadi Menteri Pertahanan
Langkah politik paling signifikan terjadi ketika Dia bergabung ke kabinet Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pertahanan pada (2019). Keputusan itu sempat mengejutkan publik karena sebelumnya keduanya merupakan rival politik yang sangat keras. Namun di posisi tersebut, Prabowo mulai menunjukkan pendekatan yang lebih pragmatis dan strategis.
Selama menjabat Menteri Pertahanan, Dia aktif memperkuat modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista), memperluas kerja sama pertahanan internasional, dan meningkatkan diplomasi militer Indonesia. Sejumlah kerja sama strategis dilakukan dengan negara-negara seperti Prancis, Amerika Serikat, hingga Turki dalam upaya memperkuat pertahanan nasional.

