Produksi gas Eni di Indonesia diproyeksikan meningkat signifikan dari sekitar 600–700 MMSCFD saat ini menjadi 2.000 MMSCFD pada 2028, bahkan mencapai 3.000 MMSCFD dalam dua tahun berikutnya. Kenaikan produksi kondensat juga dinilai berpotensi menekan impor minyak dalam jangka menengah.
Geopolitik Energi dan Strategi Pemerintah
Sorotan media asing turut mengaitkan temuan ini dengan kondisi energi global yang masih bergejolak, terutama akibat konflik di kawasan Timur Tengah. Harga minyak dunia yang berada di kisaran US$100 per barel menciptakan tekanan terhadap asumsi makro APBN Indonesia yang berada di level US$70 per barel.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah memperkuat strategi diversifikasi dan pengamanan pasokan energi. Presiden Prabowo Subianto disebut aktif menjajaki kerja sama energi jangka panjang dengan sejumlah negara.
Dalam kunjungan ke Moskow, Prabowo bertemu Presiden Vladimir Putin untuk membahas potensi pengadaan energi, termasuk minyak.
“Tidak ada angka spesifik yang kami miliki, tetapi ini akan menjadi jangka panjang untuk keamanan energi,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl Achmad Mulachela.
Mengacu pada data International Energy Agency, gas alam menyumbang 15,6% pasokan energi Indonesia dan 12,9% pembangkit listrik pada 2023. Dengan tambahan cadangan baru, Indonesia dinilai memiliki peluang memperkuat ketahanan energi sekaligus meningkatkan posisi dalam rantai pasok energi global.
Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa sektor migas masih menjadi instrumen strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika energi global.

