“Peperangan asimetris bekerja melalui narasi dan pengaruh sosial. Karena itu, ketahanan nasional harus dibangun dari kemampuan masyarakat membaca dan merespons ancaman secara kritis,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan kesadaran bela negara di kalangan pelajar dan komunitas lokal jadi kunci untuk mencegah masyarakat terjebak arus propaganda, polarisasi sosial, dan degradasi nilai kebangsaan.
Kegiatan PKM meliputi edukasi bela negara bagi pelajar, bantuan pendidikan dan bantuan sosial serta donor darah yang melibatkan fasilitas kesehatan setempat. Pendekatan edukatif dan kemanusiaan tersebut dirancang terintegrasi agar nilai bela negara hadir secara aplikatif.
Ketua Pelaksana PKM, Kolonel Czi Dr. Yermia Hendarwoto, juga selaku Kaprodi Diplomasi Pertahanan FSP menegaskan kegiatan ini digelar secara terintegrasi dan tidak bersifat seremonial.
“Kami ingin bela negara dipahami sebagai kebutuhan bersama, karena itu pendekatan edukatif, sosial, dan kemanusiaan disatukan sehingga relevan dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat,” kata Yermia.
Melalui kegiatan ini, Dekan FSP Unhan RI menegaskan bahwa ketahanan nasional tidak hanya dibangun dari pusat kebijakan, tetapi juga dari desa dan komunitas yang sadar, solid, serta berdaya tahan menghadapi ancaman non-militer.

