Antara Inspirasi dan Simbol Status
Di sisi lain, konsep cultural capital dari Pierre Bourdieu membantu membaca bagaimana atribut tertentu dalam dunia lari dapat berfungsi sebagai simbol status. Sepatu edisi terbatas, jam lari berteknologi tinggi, hingga keikutsertaan dalam lomba prestisius berpotensi menciptakan diferensiasi sosial. Olahraga yang sejatinya sederhana bisa terjebak dalam logika representasi dan konsumsi.
Meski demikian, pengaruh media sosial tidak melulu bersifat simbolik. Dalam kerangka Teori Pembelajaran Sosial yang diperkenalkan Albert Bandura, individu belajar melalui observasi terhadap model yang dianggap relevan. Paparan konsisten terhadap konten hidup aktif berpotensi membentuk norma positif. Ketika figur publik maupun teman sebaya membagikan kebiasaan berlari, partisipasi yang lebih luas pun terdorong mendukung agenda kesehatan masyarakat.
Menjaga Esensi
Pergeseran dari timeline ke track menunjukkan bahwa media sosial bukan sekadar medium informasi, melainkan ruang pembentuk makna, identitas dan aspirasi. Namun agar transformasi ini tetap konstruktif, ada beberapa catatan penting.
Pertama, komunitas dan penyelenggara kegiatan lari perlu menekankan inklusivitas agar olahraga ini tidak terkesan eksklusif. Kedua, media massa dapat memperkuat narasi edukatif tentang keamanan dan keberlanjutan latihan, bukan semata sisi tren. Ketiga, masyarakat perlu meningkatkan literasi digital agar mampu memaknai konten secara kritis dan tidak menjadikan pengakuan sosial sebagai satu-satunya motivasi.
Pada akhirnya, perubahan dari timeline ke track mencerminkan cara masyarakat digital membangun makna atas tubuh, kesehatan dan eksistensi. Media sosial dapat menjadi ruang inspirasi sekaligus kompetisi yang halus. Ia mampu mendorong langkah pertama, tetapi juga berpotensi menggeser orientasi menjadi pencitraan.
Yang perlu dijaga bukan hanya konsistensi berlari, melainkan kejernihan niat di baliknya. Jika media sosial dimanfaatkan sebagai sarana berbagi dan saling menguatkan, setiap kilometer yang ditempuh bukan hanya memperpanjang jarak, tetapi juga memperdalam kesadaran akan pentingnya hidup sehat yang otentik dan berkelanjutan.
Penulis opini
Ikhtiar Dwiky Asya, Mahasiwa Jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Nasional Jakarta

