Close Menu
rasional.corasional.co
    What's Hot

    PSEL Bogor Raya 1 Olah 1.500 Ton Sampah per Hari Jadi Listrik

    September 18, 2026

    Bahlil ke Pemilik BMW dan Mobil Mewah: Jangan Pakai BBM Subsidi

    September 18, 2026

    AI Makin Sulit Diprediksi, Regulasi Harus Cepat Beradaptasi

    September 18, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Trending
    • PSEL Bogor Raya 1 Olah 1.500 Ton Sampah per Hari Jadi Listrik
    • Bahlil ke Pemilik BMW dan Mobil Mewah: Jangan Pakai BBM Subsidi
    • AI Makin Sulit Diprediksi, Regulasi Harus Cepat Beradaptasi
    • Viral Video Joanna Wietrzyk BAB di Tengah Perlombaan HYROX China, Panitia Akhirnya Ganti Lantai Arena dan Minta Maaf
    • Skenario Gila Timnas U20 Tempa Diri di Negeri Tirai Bambu Demi Menembus Putaran Final Azerbaijan
    • Jadwal Pekan Ketiga BRI Super League: Persib Tantang Persijap, Bali United Sambangi Borneo FC
    • Bantai Nepal Tanpa Ampun, Timnas Voli Putri Indonesia Segel Tiket Perempat Final Asian Games 2026
    • Sempat Bernama Gajah Mada, TNI AL Ubah Nama Kapal Induk Jadi KRI Sriwijaya
    rasional.corasional.co
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube WhatsApp TikTok
    Login
    Sabtu, September 19
    • Nasional
    • Politik
    • Dunia
    • Ekonomi
    • Lifestyle
    • Otomotif
    • Tekno
    • Sport
    • Video
    rasional.corasional.co
    • Nasional
    • Politik
    • Dunia
    • Ekonomi
    • Lifestyle
    • Otomotif
    • Tekno
    • Sport
    • Video
    Home»Lifestyle»Dari Timeline ke Track: Media Sosial Ubah Lari Jadi Gaya Hidup
    Lifestyle

    Dari Timeline ke Track: Media Sosial Ubah Lari Jadi Gaya Hidup

    ADNBy ADNFebruari 15, 2026Updated:Februari 15, 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Copy Link WhatsApp
    Ikhtiar Dwiky Asya, Mahasiwa Jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Nasional Jakarta. Dok: (Ist)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Copy Link Telegram WhatsApp

    Jakarta – Akhir pekan pagi, kawasan car free day dipenuhi ratusan pelari dengan sepatu warna-warni dan jam pintar di pergelangan tangan. Sebagian berlari santai, sebagian lain fokus mengejar target ritme. Namun sebelum keringat mengering, aktivitas itu kerap lebih dulu hadir di linimasa media sosial mulai dari tangkapan layar aplikasi lari seperti Strava, foto outfit run, hingga video pendek bertagar morning miles.

    Fenomena ini menandai pergeseran menarik: dari timeline ke track. Apa yang awalnya viral di media sosial kini menjelma menjadi praktik nyata di ruang publik. Lari bukan lagi sekadar aktivitas fisik, melainkan bagian dari gaya hidup yang dibangun, diceritakan dan dibagikan.

    Media Sosial Membentuk Persepsi

    Dalam perspektif Teori Agenda Setting, intensitas konten di media mampu membentuk persepsi publik tentang isu yang dianggap penting. Ketika linimasa dipenuhi promosi fun run, kisah transformasi tubuh, hingga pencapaian personal, lari tampil sebagai aktivitas yang relevan, modern, dan bernilai. Paparan berulang menciptakan kesan bahwa hidup aktif adalah norma baru masyarakat digital.

    Baca Juga :  Film 'Dhurandhar: The Revenge' Pecahkan Rekor Box Office India, Lampaui Film Pathaan Shah Rukh Khan

    Tak hanya itu, Teori Uses and Gratifications melihat individu sebagai subjek aktif yang memanfaatkan media untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Dalam tren lari, media sosial menjadi ruang aktualisasi diri sekaligus pencarian pengakuan. Unggahan jarak tempuh, medali finisher, atau progres latihan bukan sekadar dokumentasi, melainkan komunikasi simbolik yang mengundang respons. Likes, komentar dan fitur kudos menjadi penguat sosial yang mendorong konsistensi.

    Lari sebagai Identitas

    Artikel ilmiah tentang fenomena “Pelari Kalcer” dalam JIMU (2025) menunjukkan bahwa lari kini dipahami sebagai konstruksi identitas. Sepatu edisi khusus, partisipasi dalam ajang populer, hingga representasi digital menjadi bagian dari citra diri. Tubuh yang berlari tak hanya bergerak, tetapi juga menyampaikan pesan.

    Teori Identitas Sosial menjelaskan bahwa komunitas lari menyediakan ruang afiliasi dan solidaritas. Identitas sebagai “runner” memberi rasa memiliki yang diperkuat oleh interaksi daring maupun luring. Media sosial memperluas jejaring ini, menjadikan pengalaman berlari bersifat kolektif dan terhubung lintas wilayah.

    Baca Juga :  Minion vs Monster: Duel Paling Nggak Masuk Akal Siap Guncang Box Office Global Juli Nanti

    Antara Inspirasi dan Simbol Status

    Di sisi lain, konsep cultural capital dari Pierre Bourdieu membantu membaca bagaimana atribut tertentu dalam dunia lari dapat berfungsi sebagai simbol status. Sepatu edisi terbatas, jam lari berteknologi tinggi, hingga keikutsertaan dalam lomba prestisius berpotensi menciptakan diferensiasi sosial. Olahraga yang sejatinya sederhana bisa terjebak dalam logika representasi dan konsumsi.

    Meski demikian, pengaruh media sosial tidak melulu bersifat simbolik. Dalam kerangka Teori Pembelajaran Sosial yang diperkenalkan Albert Bandura, individu belajar melalui observasi terhadap model yang dianggap relevan. Paparan konsisten terhadap konten hidup aktif berpotensi membentuk norma positif. Ketika figur publik maupun teman sebaya membagikan kebiasaan berlari, partisipasi yang lebih luas pun terdorong mendukung agenda kesehatan masyarakat.

    Menjaga Esensi

    Pergeseran dari timeline ke track menunjukkan bahwa media sosial bukan sekadar medium informasi, melainkan ruang pembentuk makna, identitas dan aspirasi. Namun agar transformasi ini tetap konstruktif, ada beberapa catatan penting.

    Baca Juga :  Lagu 'Buih Jadi Permadani' Kembali Menghantui Kuping Pendengar Lintas Generasi dan Viral, Ini Dia Liriknya

    Pertama, komunitas dan penyelenggara kegiatan lari perlu menekankan inklusivitas agar olahraga ini tidak terkesan eksklusif. Kedua, media massa dapat memperkuat narasi edukatif tentang keamanan dan keberlanjutan latihan, bukan semata sisi tren. Ketiga, masyarakat perlu meningkatkan literasi digital agar mampu memaknai konten secara kritis dan tidak menjadikan pengakuan sosial sebagai satu-satunya motivasi.

    Pada akhirnya, perubahan dari timeline ke track mencerminkan cara masyarakat digital membangun makna atas tubuh, kesehatan dan eksistensi. Media sosial dapat menjadi ruang inspirasi sekaligus kompetisi yang halus. Ia mampu mendorong langkah pertama, tetapi juga berpotensi menggeser orientasi menjadi pencitraan.

    Yang perlu dijaga bukan hanya konsistensi berlari, melainkan kejernihan niat di baliknya. Jika media sosial dimanfaatkan sebagai sarana berbagi dan saling menguatkan, setiap kilometer yang ditempuh bukan hanya memperpanjang jarak, tetapi juga memperdalam kesadaran akan pentingnya hidup sehat yang otentik dan berkelanjutan.

    Penulis opini

    Ikhtiar Dwiky Asya, Mahasiwa Jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Nasional Jakarta

    Tampilan penuh:12
    Car free day Fun run Opini
    Follow on Google News Follow on Flipboard
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleFakultas Strategi Pertahanan Unhan RI Perkuat Akar Ketahanan Nasional di Jonggol Melalui Nilai Bela Negara dan Kearifan Lokal
    Next Article Mahalini Guncang Istora Senayan dalam “KOMA Live in Concert”, Tandai Debut Pasca-Melahirkan

    Berita Terkait

    Viral Video Joanna Wietrzyk BAB di Tengah Perlombaan HYROX China, Panitia Akhirnya Ganti Lantai Arena dan Minta Maaf

    September 18, 2026

    Ramalan Zodiak Hari Ini, 17 September 2026: Cuan, Karier, dan Asmara Lengkap!

    September 17, 2026

    Ramalan Shio 17 September 2026: Peruntungan Karier, Asmara, dan Rezeki

    September 17, 2026

    Dari Cinlok TV Jadi ke Pelaminan? Ini Fakta Terbaru Hubungan Andre Taulany dan Amanda Rigby

    September 17, 2026

    Viral! Simbang Kulon Night Carnaval Pekalongan Diduga Tampilkan Unsur Satanik Saat Maulid Nabi

    September 16, 2026

    Dibintangi Ariel Noah, Dilan ITB 1997 Sukses Tumbangkan Rekor Top 10 Netflix Indonesia

    September 16, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    BERITA TERKINI

    PSEL Bogor Raya 1 Olah 1.500 Ton Sampah per Hari Jadi Listrik

    Bayu PratamaSeptember 18, 2026

    Jakarta, Rasional.co – Sebanyak 1.500 ton sampah per hari ditargetkan dapat diolah menjadi energi listrik…

    Bahlil ke Pemilik BMW dan Mobil Mewah: Jangan Pakai BBM Subsidi

    September 18, 2026

    AI Makin Sulit Diprediksi, Regulasi Harus Cepat Beradaptasi

    September 18, 2026
    Top Trending

    PSEL Bogor Raya 1 Olah 1.500 Ton Sampah per Hari Jadi Listrik

    Bayu PratamaSeptember 18, 2026

    Jakarta, Rasional.co – Sebanyak 1.500 ton sampah per hari ditargetkan dapat diolah…

    Bahlil ke Pemilik BMW dan Mobil Mewah: Jangan Pakai BBM Subsidi

    Bayu PratamaSeptember 18, 2026

    Jakarta, Rasional.co – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia…

    AI Makin Sulit Diprediksi, Regulasi Harus Cepat Beradaptasi

    Bayu PratamaSeptember 18, 2026

    Jakarta, Rasional.co – Perkembangan kecerdasan artifisial yang berlangsung cepat membuat pemerintah tidak…

    rasional.co
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi Rasional.co
    • Pedoman Media Siber
    • SOP Perlindungan Wartawan
    • Privacy Policy
    • Terms of Service
    © 2026 RASIONAL.CO

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?