Sementara itu, pengembangan bauksit diarahkan pada integrasi rantai nilai dari pertambangan hingga produk alumina. ANTAM memiliki tambang bauksit di Tayan serta fasilitas Chemical Grade Alumina (CGA) melalui PT Indonesia Chemical Alumina dengan kapasitas terpasang 300 ribu ton per tahun.
ANTAM juga memiliki 40% kepemilikan pada fasilitas Smelter Grade Alumina (SGA) Mempawah yang berkapasitas terpasang 1 juta ton per tahun. Penguatan rantai nilai tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah mineral dan mendukung industri pengolahan nasional.
Laba Rp6,91 Triliun Perkuat Fundamental
Di tengah pengembangan bisnis, ANTAM mencatat total aset Rp61,27 triliun, total ekuitas Rp38,53 triliun, serta kas dan setara kas Rp9,23 triliun hingga semester I 2026. Posisi tersebut menjadi dasar perusahaan untuk menjalankan agenda pertumbuhan dengan tetap memperhatikan disiplin investasi dan pengelolaan risiko.
Arini mengatakan ANTAM akan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, disiplin investasi, dan pengelolaan risiko. Pengembangan usaha, menurut dia, perlu dijalankan secara terukur agar memberikan nilai tambah sekaligus mempertahankan kesehatan keuangan perusahaan dalam jangka panjang.
ANTAM selanjutnya akan mengoptimalkan portofolio emas, nikel, dan bauksit serta mengembangkan hilirisasi sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang.

