JAKARTA – Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan signifikan hingga menyentuh angka Rp18.000 per 1 dolar Amerika Serikat (USD). Kondisi ini disebut menjadi salah satu tekanan terbesar terhadap perekonomian nasional karena berdampak pada meningkatnya inflasi, biaya distribusi, hingga lonjakan harga sejumlah bahan pokok di masyarakat.
Melemahnya rupiah turut memengaruhi harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya jenis non-subsidi. Berdasarkan data GoodStats harga BBM Pertamina per Juni 2025, harga Pertalite tercatat sebesar Rp10.000 per liter, Pertamax 92 Rp12.100 per liter, dan Pertamax Turbo Rp13.050 per liter.
Sementara pada Juni 2026, harga Pertalite belum mengalami perubahan dan tetap berada di angka Rp10.000 per liter. Namun, BBM non-subsidi menunjukkan kenaikan. Harga Pertamax 92 naik sebesar 3,31 persen menjadi Rp12.500 per liter, sedangkan Pertamax Turbo meningkat 3,45 persen menjadi Rp13.500 per liter. Secara rata-rata, kenaikan BBM non-subsidi mencapai sekitar 3,38 persen.
Kenaikan harga BBM dipicu oleh meningkatnya biaya impor minyak mentah akibat pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Kondisi ini berdampak langsung pada biaya transportasi dan distribusi barang, termasuk bahan pangan yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat.
Sejumlah komoditas pangan strategis pun mengalami kenaikan harga dalam beberapa tahun terakhir. Mengacu pada data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), harga beras mengalami kenaikan cukup signifikan. Pada Juni 2021, harga beras tercatat sebesar Rp9.150 per kilogram, sementara pada Juni 2026 naik menjadi Rp13.600 per kilogram atau meningkat sekitar 48,6 persen.
Komoditas telur ayam ras juga mengalami peningkatan harga sebesar 36,02 persen. Pada November 2021, harga telur berada di kisaran Rp19.850 per kilogram, sedangkan pada Juni 2026 mencapai Rp27.000 per kilogram. Kenaikan ini dipengaruhi oleh meningkatnya biaya produksi, terutama bahan baku pakan ternak seperti jagung, bungkil kedelai, vitamin, dan obat ternak yang masih bergantung pada impor.

