JAKARTA – Manchester United resmi mengajukan proposal bisnis untuk membangun arena megah berkapasitas 100.000 kursi. Manajemen memilih membangun infrastruktur baru alih-alih merenovasi Old Trafford demi menghindari penurunan kapasitas penonton selama proses konstruksi.
Proyek raksasa ini mengambil lokasi di kawasan Stretford, tepatnya sekitar 350 meter sebelah barat laut dari stadion lama. Klub legendaris Inggris ini berhasil mengamankan lahan strategis tersebut pada Juni 2026 dari perusahaan logistik milik Blackstone.
Rencana ambisius ini menelan biaya investasi fantastis mencapai Rp39,4 triliun, dengan potensi pembengkakan anggaran pada masa mendatang. Angka ini melonjak jauh dari perkiraan awal renovasi Old Trafford tahun 2024 sebesar Rp19,7 triliun hingga Rp23,6 triliun Demi menutup biaya proyek sekaligus mengatasi utang, manajemen membuka peluang penjualan hak penamaan komersial untuk stadion sementara berjuluk ‘New Trafford’ ini.
Dampak Ekonomi dan Ambisi Penguasa Eropa
Proyek ‘New Trafford’ membawa misi besar untuk melampaui kapasitas Wembley di Inggris serta Camp Nou di Spanyol. Walau arsitek Foster + Partners sempat menyederhanakan konsep awal kanopi besar karena kendala biaya, manajemen optimis proyek ini menjadi tonggak sejarah baru. Pihak klub menegaskan bahwa Old Trafford tetap berdiri kokoh sebagai bagian integral sejarah panjang tim sejak 1910.
Megaproyek ini menjanjikan efek domino yang luar biasa bagi masyarakat sekitar kawasan Trafford. Selain fasilitas olahraga modern, pembangunan ini siap menghadirkan 15.000 hunian baru, 48.000 lapangan pekerjaan, ruang terbuka hijau, serta pembenahan sistem transportasi publik.

