JAKARTA – TNI AU memastikan proses pelatihan untuk calon penerbang pesawat tempur Rafale masih berlangsung ketat.
Langkah strategis ini menjadi bagian dari persiapan Skadron 12 TNI AU dalam mengoperasikan alutsista modern asal Prancis tersebut.
“Pelatihan penyiapan sumber daya manusia sedang berjalan dan terus berjalan hingga seluruh pesawat datang,” ujar Komandan Skadron 12 Letkol Pnb Binggi “Rayden” Nobel di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5).
Seleksi Ketat Berbasis Jam Terbang Tinggi
Saat ini, TNI AU telah memiliki delapan pilot pesawat tempur Rafale. Lembaga militer tersebut memilih para calon penerbang Rafale berdasarkan pengalaman dan jam terbang tinggi sebagai penerbang tempur melalui proses seleksi yang sangat ketat.
Setelah memenuhi seluruh syarat, para penerbang terpilih langsung menjalani latihan intensif. Selama pelatihan, para calon pilot Rafale mempelajari ragam materi, mulai dari aspek teknis hingga praktik langsung. Para calon pilot tersebut bahkan telah menyelesaikan program pelatihan khusus di Prancis, negara produsen Rafale.
Penguatan Skadron 12 Jelang Kedatangan Alutsista
Saat ini, Skadron 12 TNI AU berencana menyambut kedatangan empat pilot Rafale tambahan untuk memperkuat jajaran yang ada.
“Saat ini kita dari yang sudah ada adalah memiliki delapan penerbang, yang di mana delapan ini, empat di antaranya sedang melaksanakan program konversi (latihan),” jelas Binggi.
TNI AU berharap seluruh personel, alutsista, dan infrastruktur pesawat Rafale dapat mendukung operasional pertahanan udara secara maksimal.
“Kesiapan pilot, teknisi dan dan elemen pendukung lainnya sangat krusial dalam pengawakan dan pengoperasionalan Skadron Pesawat MRCA Rafale,” pungkas Binggi.

