Jakarta – Persija Jakarta mengusung misi bangkit dalam laga krusial BRI Super League 2025/2026 melawan Persebaya Surabaya di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).
Fokus utama pelatih Mauricio Souza menjelang laga pekan ke-27 ini adalah memperbaiki disiplin pemain menyusul catatan buruk kartu merah yang menghambat laju Macan Kemayoran di papan atas klasemen.
Darurat Kartu Merah Macan Kemayoran
Statistik menunjukkan Persija Jakarta menempati posisi kedua sebagai tim dengan koleksi kartu merah terbanyak musim ini. Dari 26 pertandingan yang telah berjalan, wasit telah mengeluarkan delapan kartu merah untuk pemain Macan Kemayoran. Angka ini hanya selisih satu angka dari Arema FC yang memuncaki daftar tim paling tidak disiplin.
Mauricio Souza menegaskan pentingnya menjaga jumlah pemain tetap utuh di lapangan hingga peluit panjang berbunyi. Menurutnya, bermain dengan sepuluh orang memberikan kerugian taktis yang sangat besar bagi strategi tim.
“Kami selalu menekankan untuk memulai dan mengakhiri pertandingan dengan 11 pemain. Kami tahu kerugian yang kami alami akibat kartu merah,” ujar Mauricio, Jumat.
Kontrol Emosi Jadi Kunci Papan Atas
Kurangnya kontrol emosi pemain menjadi sorotan tajam staf pelatih. Jordi Amat tercatat sebagai pemain yang paling sering diusir keluar lapangan dengan koleksi dua kartu merah. Selain Jordi, enam pemain lain yakni Allano, Rio Fahmi, Figo Dennis, Fabio Calonego, Bruno Tubarao, dan Aditya Warman juga pernah menerima sanksi serupa.
Efek negatif dari kartu merah ini terlihat jelas pada perolehan poin. Persija menelan 50 persen dari total kekalahan mereka saat ada pemain yang terkena kartu merah. Saat ini, Persija tertahan di posisi ketiga klasemen dengan 52 poin, tertinggal sembilan angka dari Persib Bandung di puncak klasemen.
“Kartu-kartu itu bukan karena pelanggaran taktis atau keras, tetapi karena kurangnya kontrol. Kami harus memahami betapa merugikannya hal itu bagi tim,” tegas pelatih asal Brasil tersebut.

