Jakarta – Suara riang lagu anak “Cicak-Cicak di Dinding” mendadak berubah menjadi melodi yang menyayat nyali di balik jeruji besi Penjara Labuan Angsana. Alunan nada ciptaan AT Mahmud yang biasanya mengiringi tawa balita, kini justru membungkus atmosfer gelap dalam cuplikan film horor komedi terbaru karya Joko Anwar, Ghost in the Cell.
Di tengah kesunyian sel yang pengap, lirik sederhana itu menjadi pertanda hadirnya teror yang merayap di langit-langit, menunggu saat yang tepat untuk menyergap mangsa.
Teror Merayap dan Krisis Lagu Tokek
Sutradara kondang Joko Anwar mengungkapkan bahwa pemilihan lagu klasik tersebut bukan tanpa alasan kuat. Perilaku entitas mistis dalam film ke-12 garapannya ini memiliki kemiripan artistik dengan cara cicak bergerak. Karakter hantu yang dihadirkan tidak sekadar menakut-nakuti, namun memiliki pola serangan yang spesifik dan identik dengan lirik lagu tersebut.
“’Cicak-Cicak di Dinding’ dipilih karena kelakuan dari hantunya itu seperti cicak di dinding. Sesuai dengan lirik,” ujar Joko.
Sambil berkelakar, Joko mengaku sempat kesulitan mencari referensi lagu populer yang merepresentasikan karakter penting lainnya dalam film, yakni Tokek. “Cicak itu kayak versi kecil dari tokek. Karena di film kita ada Tokek, kalau lagunya ‘Tokek-Tokek di Dinding’, enggak ada lagunya,” tambah sang sutradara sembari tertawa.
Aming Sugandhi dan Sindiran Korupsi di Sel
Sosok Tokek yang diperankan oleh aktor sekaligus komedian Aming Sugandhi memegang peranan vital dalam alur cerita. Tokek digambarkan sebagai narapidana yang tidak hanya menjadi bumbu komedi, tetapi juga menjadi simbol relasi kuasa yang korup di dalam penjara. Kehadiran Aming bersama 22 pemain lainnya dipastikan saling mengunci satu sama lain dalam struktur naskah yang solid.
Joko Anwar menegaskan bahwa setiap karakter dalam film produksi Come And See Pictures ini memiliki urgensi yang sama besar bagi keberlangsungan cerita.
“Kalau misalnya ada satu karakter yang dikeluarkan dari filmnya, ceritanya enggak jalan. Jadi mereka semua… semuanya ada fungsinya, semuanya ada fungsinya,” tegasnya.
Meski sekilas atmosfer dalam cuplikan mengingatkan penonton pada serial global Squid Game, Joko menjamin bahwa Ghost in the Cell memiliki identitas horor yang berbeda. Entitas hantu di sini dirancang dengan kepribadian dan motif yang kuat, bukan sekadar elemen estetika belaka.
“Di sini hantunya punya karakter yang benaran hantu gitu. Bukan cuma elemen-elemen horor dari film kita. Tapi dia punya karakter, punya tujuan,” kata Joko menutup sesi penjelasan.
Para pecinta sinema dapat menyaksikan aksi merayap sang hantu dan kegilaan karakter Tokek di layar lebar mulai 16 April 2026.

