Jakarta – Di bawah terik matahari yang menyengat Stadion Pakansari, Bogor, Sabtu (14/2), sosok pria asal Inggris tampak serius mengamati setiap pergerakan pemain di lapangan hijau. Bukan laga bertabur bintang Liga 1 yang menjadi magnetnya, melainkan duel sengit kasta kedua antara Garudayaksa melawan Persekat Tegal. Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, sengaja “turun kasta” untuk mencium aroma bakat-bakat terpendam yang mungkin selama ini luput dari radar kamera televisi.
Misi Berburu ‘Intan Mentah’ di Kasta Kedua
Kehadiran mantan pelatih Timnas Kanada ini di tribun stadion bukan tanpa alasan. Herdman meyakini bahwa Liga 2 atau kompetisi divisi bawah merupakan ladang subur bagi pemain muda yang memiliki daya juang tinggi untuk menembus level profesional yang lebih tinggi.
“Sangat penting untuk memahami apa yang ada di bawah divisi pertama di sini. Penting untuk mengetahui pemain muda mana yang sedang muncul. Di level ini Anda bisa melihat banyak pemain yang jauh lebih muda. Pemain yang tengah berjuang untuk mendorong dirinya ke level selanjutnya,” ungkap Herdman.
Bagi pelatih yang malang melintang di kompetisi internasional ini, memahami struktur sepak bola Indonesia secara menyeluruh adalah kewajiban. Menonton Liga 2 memberikannya perspektif baru mengenai kualitas fasilitas hingga intensitas permainan di luar kasta tertinggi.
Saksi Kemenangan Dramatis Garudayaksa
Dalam pengamatan pertamanya di Liga 2 tersebut, mata Herdman disuguhi drama tiga gol. Tuan rumah Garudayaksa berhasil membungkam Persekat Tegal dengan skor tipis 2-1. Gol pembuka dilesakkan oleh Alfin Kelilaw pada menit ke-24, sebelum akhirnya disamakan oleh Hamdi Sula pada menit ke-78. Namun, sundulan maut Adittia Gigis di menit ke-89 memastikan poin penuh tetap berada di Bogor.
Hasil ini memperkokoh posisi Garudayaksa di puncak klasemen Grup A dengan koleksi 37 poin. Herdman mengaku terkesan dengan pengalaman pertamanya memantau kompetisi kasta kedua ini sebagai bagian dari perjalanan kariernya di tanah air.
“Jadi, saya pikir di 10 tahun awal karier Anda penting untuk melihat segalanya. Setiap level di kompetisi dan untuk memahami strukturnya seperti apa, fasilitasnya seperti apa, intensitasnya seperti apa. Jadi, ini adalah pengalaman yang bagus,” pungkas pelatih bertangan dingin tersebut.

