Jakarta – Suasana sejuk hutan belantara Papua mendadak terasa begitu dekat di tengah hiruk-pikuk Jakarta saat cuplikan film Teman Tegar: Maira–Whisper from Papua diperkenalkan ke publik.
Melalui arahan sutradara Anggi Frisca, petualangan ini bermula ketika Tegar (M Aldifi Tegarajasa), bocah asal Bandung, menempuh perjalanan ribuan kilometer menuju kampung halaman pengasuhnya di Bumi Cendrawasih demi menunaikan wasiat cerita mendiang kakeknya.
Di sana, ia bertemu Maira (Elisabet Sisauta), gadis kecil masyarakat adat yang menjadi pemandu sekaligus penjaga rahasia hutan, yang kemudian menyeretnya ke dalam pusaran konflik melawan perusahaan pembalakan liar demi menyelamatkan masa depan paru-paru dunia.
Persahabatan di Tengah Ancaman Eksploitasi
Hubungan Tegar dan Maira berkembang menjadi ikatan persahabatan kuat yang membuka perspektif baru tentang kehidupan. Maira, sebagai satu-satunya anak yang mahir baca-tulis di kampungnya, menyadari bahwa masyarakat adat sedang ditipu oleh pemilik perusahaan tambang melalui dokumen-dokumen palsu. Keinginan awal Tegar yang hanya ingin melihat kecantikan burung Cendrawasih berubah total menjadi aksi heroik menyelamatkan hutan dari ancaman deforestasi dan krisis iklim.
Produser film, dr. Chandra Sembiring, menekankan bahwa karya ini merupakan instrumen penting untuk menyuarakan ketahanan masyarakat adat yang sering terpinggirkan oleh modernitas.
“Kami ingin membangun ekosistem. Setiap film adalah alat edukasi, alat kampanye dan benih gerakan,” ujar Chandra saat memberikan keterangan resmi di Jakarta.
Simfoni Alam dan Keberanian Anak Bangsa
Visual luar biasa dari bentang alam Papua berpadu manis dengan unsur musikal yang digarap oleh Joan Wakum. Aktris sekaligus penyanyi asal Papua ini memimpin komposisi musik yang menggabungkan ritme tradisional dengan sentuhan orkestrasi sinematik modern.
Film ini memosisikan anak-anak bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai subjek yang memiliki suara dan keberanian untuk bertindak nyata melawan ketidakadilan.
Keberanian tersebut ditonjolkan melalui karakter Maira yang mengembalikan dokumen perusahaan sebagai simbol perlawanan tulus. Joan Wakum menyampaikan harapan besar agar karya ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat timur Indonesia.
“Saya sangat berharap bahwa film ini bukan cuma sekedar film saja. Lagu-lagu dan visual di dalam film ini adalah kebanggaan kami anak-anak Papua. Ini tradisi yang akan kita bawa,” pungkas Joan.
Film musikal petualangan ini dijadwalkan menyapa penonton di bioskop seluruh Indonesia mulai 5 Februari 2026.

