Jakarta – Pakar Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, memprediksi iklim industri otomotif tahun 2026 masih akan menghadapi tantangan berat yang serupa dengan tahun sebelumnya.
Melemahnya daya beli masyarakat akibat inflasi di angka 3 hingga 4 persen serta penyusutan kelas menengah menjadi akar masalah utama.
Yannes menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah yang masih belum pasti membuat calon pembeli ragu untuk melakukan transaksi di dealer.
Salah satu faktor krusial adalah fenomena fiscal cliff atau berakhirnya insentif impor Completely Built Up (CBU) per 1 Januari 2026. Kebijakan ini berpotensi mengerek harga kendaraan listrik (EV) hingga lebih dari 40 persen, yang memicu sikap wait and see dari konsumen.
“Peluang kebangkitan tetap ada jika kondisi keuangan dan sentimen konsumen membaik di akhir semester pertama tahun ini,” ujar Yannes kepada ANTARA, Jumat (9/1).
Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi makro harus mencapai 5,4 persen pada semester pertama 2026 sebagai syarat mutlak pemulihan.
Selain itu, sektor pembiayaan (leasing) perlu memberikan kelonggaran kredit dengan suku bunga yang stabil agar minat beli masyarakat kembali bergairah.
Sebagai informasi, data Gaikindo menunjukkan penjualan retail sepanjang 2025 mencapai 833.692 unit. Target besar kini menanti industri otomotif roda empat untuk melampaui capaian tahun lalu di tengah tekanan ekonomi yang masih membayangi.

