Jakarta – Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) bersama Real Madrid resmi menyepakati penghentian perseteruan hukum terkait proyek kontroversial European Super League (ESL) dalam pertemuan tertutup di Paris, Rabu (11/2).
Kesepakatan yang melibatkan European Football Clubs (EFC) ini muncul setelah pembicaraan intensif selama berbulan-bulan guna menjamin stabilitas sepak bola klub di benua biru. Keputusan tersebut sekaligus menandai berakhirnya ketegangan panjang yang sempat mengancam struktur kompetisi tradisional sejak tahun 2021.
Menjaga Marwah Prestasi Olahraga
Kesepakatan prinsip ini menegaskan bahwa integritas kompetisi berdasarkan prestasi olahraga tetap menjadi prioritas utama bagi masa depan sepak bola Eropa. Melalui langkah ini, kedua pihak berkomitmen untuk mengedepankan kolaborasi demi menjaga keberlangsungan ekosistem olahraga yang sehat.
“Kesepakatan prinsip ini juga akan menjadi dasar penyelesaian sengketa hukum terkait Liga Super Eropa, setelah prinsip-prinsip tersebut dijalankan dan diimplementasikan,” tulis pernyataan bersama UEFA dan Real Madrid sebagaimana diwartakan ESPN.
Selanjutnya, keputusan ini mengakhiri tuntutan kompensasi yang sebelumnya diajukan Real Madrid kepada UEFA. Langkah hukum tersebut sempat memuncak setelah Pengadilan Regional Madrid menolak banding UEFA serta Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) pada Oktober tahun lalu.
Runtuhnya Ambisi Liga Tandingan
Perjalanan menuju perdamaian ini melewati dinamika yang sangat pelik. Real Madrid sempat menjadi garda terdepan dari 12 klub elite yang menggagas kompetisi tandingan Liga Champions pada 2021. Namun, gelombang protes keras dari suporter dan tekanan pemerintah global memaksa mayoritas klub pendiri, termasuk enam raksasa Liga Inggris, untuk menarik diri dalam hitungan hari.
Meskipun upaya menghidupkan kembali konsep tersebut sempat muncul pada Desember 2024 melalui proposal “Unify League” yang melibatkan 96 klub, gagasan itu kembali menemui jalan buntu.
Penolakan tegas dari operator Liga Spanyol dan Liga Inggris membuat proyek tersebut kehilangan daya tawar.
Dengan mundurnya Barcelona pekan lalu, Real Madrid akhirnya memilih jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik panjang ini demi kebaikan sepak bola dunia.

