Ia menilai perkembangan ruang digital perlu diimbangi upaya menjaga keberadaan bahasa dan budaya lokal. Sebab, tingginya aktivitas generasi muda di internet juga membuat mereka semakin sering berinteraksi dengan budaya asing.
“Kita punya begitu banyak bahasa, tetapi generasi muda kita malah tidak kenal,” kata Nezar.
Di sisi lain, semakin luas penggunaan domain .id juga membutuhkan penguatan keamanan dan kepercayaan digital. Nezar meminta aspek keamanan diperhitungkan sejak layanan dirancang, termasuk untuk mengantisipasi penipuan, konten berbahaya, eksploitasi anak, dan pengumpulan data yang tidak sesuai ketentuan.
“Keamanan dan kepercayaan harus dibangun sejak tahap perencanaan,” ujarnya.
Nezar juga meminta PANDI membangun pertukaran data dengan registry, registrar, penyelenggara jasa internet, lembaga keamanan siber, serta tim respons insiden. Pertukaran tersebut diperlukan untuk mendeteksi dan menangani penyalahgunaan domain.
Selain keamanan, akses terhadap domain .id dinilai perlu tetap terbuka, inklusif, interoperable, dan terjangkau. Kesiapan universal acceptance juga diperlukan agar nama domain dengan beragam bahasa dan aksara dapat digunakan secara luas.
Memasuki dua dekade pengelolaan domain Indonesia, Nezar menilai keberhasilan PANDI tidak cukup diukur dari pertumbuhan jumlah domain.
Lebih dari itu, ia berharap domain .id semakin menjadi bagian dari aktivitas masyarakat Indonesia di ruang digital, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dari sekadar pengguna dan pasar menjadi bagian penting dari ekosistem digital global.

