Namun, statistik di atas masih kalah impresif dibandingkan rekor luar biasa Spanyol ini. La Roja kini tak terkalahkan dalam 37 pertandingan berturut-turut sejak kalah dari Kolombia pada Maret 2024.
Jika anak asuh De la Fuente berhasil menang, maka mereka akan melampaui rekor Italia dan mencatatkan rekor baru untuk rentetan tak terkalahkan terpanjang dalam sejarah sepak bola putra tingkat senior.
Sementara itu, Argentina hanya perlu menengok kembali ke September 2025 untuk menemukan kekalahan internasional terakhir. Mereka kalah 1-0 dari Ekuador di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Namun, kini La Albiceleste tengah mengincar status legendaris yang abadi.
Sebagai juara Copa America 2021 dan 2024, yang mengapit keberhasilan mereka menjuarai Piala Dunia 2022 di Qatar, pasukan asuhan Lionel Scaloni berpeluang menjadi negara pertama dalam sejarah yang memenangi empat turnamen besar secara berturut-turut.
Hal itu sekaligus mengukuhkan posisi mereka sebagai salah satu tim sepak bola terhebat sepanjang masa. Sejauh ini, sang juara bertahan belum mampu meniru formula pertahanan Spanyol yang tangguh.
Mereka membiarkan Anthony Gordon mencetak gol pembuka yang memicu kekacauan bagi Inggris dalam laga semifinal pada Kamis (16/7) lalu, sebelum Argentina memanfaatkan keruntuhan performa Inggris yang tak terduga.
Saat Inggris terus-menerus membiarkan gelombang tekanan dari tim Amerika Selatan itu menghantam pertahanan mereka, remontada (kebangkitan) Argentina tampak tak terelakkan.
Hal itu pun terbukti nyata, ketika Messi memberikan umpan matang kepada Enzo Fernandez dan pemain pengganti, Lautaro Martinez, yang sukses mengantarkan sang juara bertahan melaju ke final Piala Dunia untuk ketujuh kalinya.
Namun, sebelumnya Argentina belum pernah mencetak begitu banyak gol dalam satu edisi Piala Dunia. Pada 1930, mereka mencetak 18 gol dan finis sebagai runner-up. Kini, mereka berpeluang menyamai pencapaian Italia (1938) dan Brasil (1962), sebagai negara ketiga yang berhasil mempertahankan gelar juara Piala Dunia.

