Kedua dirigen lapangan tengah tampil jauh di atas level pemain lain. Gelandang Aljazair, Aïssa Mandi, menempati peringkat ketiga dengan 90,8 operan sukses per 90 menit, tertinggal cukup jauh dari angka milik Rodri dan Vitinha. Mengingat hanya satu orang dapat menguasai bola dalam satu waktu, duel perebutan kendali permainan menjadi tontonan paling memikat sepanjang gelaran Piala Dunia 2026.
Performa impresif kedua pilar di level internasional merupakan kelanjutan dari kegemilangan di kompetisi domestik dalam beberapa tahun terakhir. Sejak kepindahan Rodri ke Manchester City pada tahun 2019 dengan nilai transfer fantastis senilai puluhan juta poundsterling (setara ratusan miliar rupiah), belum ada gelandang Liga Inggris yang mampu melampaui catatan sentuhan bola milik sang pemain (18.778) maupun jumlah operan sukses (15.164).
Statistik Vitinha di Ligue 1 Prancis bahkan menunjukkan angka yang lebih luar biasa lagi. Sejak tahun 2022 setelah merampungkan transfer senilai jutaan euro (setara puluhan miliar rupiah) dari Porto, Vitinha membukukan 1.626 operan sukses lebih banyak dan 1.308 sentuhan lebih banyak daripada pemain lain di kasta tertinggi sepak bola Prancis. Sempat melewati masa adaptasi yang lambat di PSG, Vitinha kini sukses menunjukkan dominasi total selama tiga musim terakhir.
Darah Muda Pedri dan Joao Neves Menjadi Pembeda
Spanyol juga memiliki Pedri, gelandang Barcelona berusia 23 tahun yang mengukuhkan diri sebagai salah satu pemain tengah terbaik dunia. Pedri mengemban tugas mengalirkan bola ke sepertiga akhir lapangan guna menyuplai barisan penyerang seperti Yamal dan Oyarzabal. Sepanjang turnamen, Pedri melepaskan 122 operan di sepertiga akhir lapangan, jumlah tertinggi dibandingkan pemain mana pun.
“Tugas saya adalah mengalirkan bola secepat mungkin ke lini depan dan memastikan penyerang kami mendapatkan ruang tembak yang ideal,” ungkap Pedri dalam wawancara pascapertandingan sebelumnya.

