Valdano menambahkan sedikit gurauan mengenai pilihan sang ayah. “Awalnya muncul kebingungan. Mengapa sang ayah memikirkan Valdano? Padahal di sana ada Maradona! Namun, rasa bangga ini tetap membumbung tinggi. Salam hangat untuk Vozinha, sang ayah, Josimar, serta semua orang terlibat dalam kisah ini,” ucap Valdano.
Warisan Cinta Kakek Nenek Membawa Berkah
Panggilan ikonik pada jersei sang kiper berasal dari kasih sayang sang nenek, almarhumah Maria Senhorinha dos Santos. Semasa hidup, Maria selalu memanggil cucunya dengan sebutan “Dani” karena kesulitan melafalkan kata “Valdano”. Maria pula pencetus julukan Vozinha, berarti “nenek” dalam bahasa Portugis.
Masa kecil sang kiper tumbuh bersama kakek dan nenek saat ibunya bekerja keras sepanjang hari dan sang ayah menjalani wajib militer. Ketika bermain sepak bola jalanan bersama anak-anak lebih tua, Josimar kecil kerap mendapat benturan fisik. Sifat pantang kalah membuatnya sering pulang dengan wajah cemberut, sehingga teman-teman mengejeknya suka mengadu ke nenek.
“Benturan fisik sering terjadi saat bermain. Kegagalan membalas memicu rasa kesal dan cemberut di rumah. Teman-teman meledek, menyebut diri ini akan mengadu ke kakek nenek,” kata Vozinha mengenang masa kecilnya dalam wawancara terdahulu.
Usai peluit panjang kontra Spanyol berbunyi, sang penjaga gawang mendedikasikan hasil imbang legendaris ini untuk mendiang pengasuhnya. Keberhasilan menahan gempuran juara dunia mengundang simpati publik global. Jumlah pengikut akun media sosial Vozinha melonjak drastis, dari semula 50 ribu akun menjadi jutaan pengikut dalam waktu satu hari.
“Hasil luar biasa ini tidak pernah masuk perkiraan. Semua dedikasi ini tertuju untuk Tanjung Verde dan seluruh masyarakat. Terima kasih atas dukungan luar biasa para penggemar, termasuk publik Brasil,” pungkas Vozinha.

