Jakarta – Lampu sorot Royal Festival Hall malam itu tidak hanya memancarkan kilau emas trofi, tetapi juga menyinari sebuah pesan kemanusiaan yang mendalam. Di tengah kepungan nama-nama besar sekelas Timothee Chalamet hingga sang legenda Leonardo DiCaprio, Robert Aramayo melangkah mantap ke podium.
Bintang film “I Swear” tersebut secara mengejutkan menyabet penghargaan The EE Rising Star Award pada ajang British Academy of Film and Television Arts (BAFTA), sebuah momentum yang seketika berubah menjadi ruang kelas edukasi bagi dunia mengenai sindrom Tourette.
Penghormatan untuk Sang Inspirator
Dalam pidato kemenangannya, Robert Aramayo memberikan penghormatan khusus kepada John Davidson, seorang aktivis Tourette yang menjadi inspirasi di balik pembuatan filmnya. Aramayo menggambarkan Davidson sebagai sosok paling luar biasa yang pernah ditemui karena keterbukaannya dalam membagikan pengalaman hidup.
“Dia sangat terbuka dalam hal edukasi dan dia percaya masih banyak hal yang perlu kita pelajari tentang sindrom Tourette,” ujar Aramayo saat menerima penghargaan, sebagaimana dilansir dari The Hollywood Reporter.
Melalui pidato tersebut, penekanan tertuju pada peran lingkungan sekitar dalam mendukung pengidap kondisi ini. Aramayo mengajak publik untuk tidak menghakimi, melainkan mencoba memahami perspektif para penyintas.
“Bagi orang-orang yang hidup dengan sindrom Tourette, kitalah orang-orang di sekitar mereka yang membantu mereka mendefinisikan pengalaman mereka. Jadi, seperti yang dikatakan dalam film, mereka membutuhkan dukungan dan pengertian,” lanjutnya.
Meluruskan Kesalahpahaman Gejala ‘Tik’
Sindrom Tourette sendiri merupakan kondisi neurologis yang ditandai dengan gerakan atau suara tiba-tiba, tidak disengaja, dan berulang yang dikenal sebagai tik (tics). Terkadang, gejala ini muncul dalam bentuk ledakan suara keras yang menyerupai umpatan, yang sering kali disalahartikan oleh masyarakat awam sebagai perilaku kasar yang disengaja.
Pembawa acara Alan Cumming turut memberikan klarifikasi di hadapan penonton untuk memastikan tidak ada miskonsepsi selama acara berlangsung. Ia menjelaskan bahwa segala suara atau gerakan tidak biasa yang terdengar malam itu murni merupakan bagian dari disabilitas tersebut.
“Sindrom Tourette adalah disabilitas dan tik yang terdengar malam itu murni bersifat tidak disengaja. Artinya orang yang memiliki sindrom Tourette tidak memiliki kendali atas bahasanya,” jelas dia.
Senada dengan hal tersebut, laporan BBC mengonfirmasi bahwa perilaku verbal tersebut muncul dari kebiasaan saraf yang tidak terkendali. Meskipun beberapa pihak menganggap kondisi ini sangat melemahkan (debilitating), momentum kemenangan Robert Aramayo di BAFTA 2026 ini menjadi bukti nyata bahwa pemahaman dan edukasi publik adalah kunci utama untuk menghapus stigma negatif terhadap pengidap sindrom Tourette.

