Jakarta – Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mendorong penyelenggaraan Prambanan Shiva Festival sebagai agenda unggulan nasional guna memperkuat posisi Candi Prambanan sebagai destinasi wisata budaya dan spiritual kelas dunia pada puncak perayaan Mahashivaratri, Senin (26/1).
Langkah strategis ini bertujuan meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara melalui pengalaman wisata yang bermakna. Tidak hanya menyuguhkan ritual keagamaan, festival ini terbukti mampu menggerakkan ekosistem ekonomi masyarakat lokal secara masif.
“Dari sisi kepariwisataan, Prambanan Shiva Festival diharapkan menjadi program unggulan yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara,” ujar Ni Luh Puspa dalam keterangan resminya.
Magnet Ekonomi dan Budaya Lokal
Penyelenggaraan event budaya berskala besar ini memberikan dampak instan bagi para pelaku UMKM, pekerja seni, hingga sektor perhotelan di kawasan sekitar candi. Sejak dimulai pada 17 Januari 2026, rangkaian festival ini telah menghidupkan sektor jasa pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi warga.
Puncak acara ditandai dengan Festival Dipa, di mana ribuan lampu minyak (dipa) dinyalakan serentak. Suasana magis semakin terasa dengan iringan bunyi alat musik damaru dan atraksi video mapping yang memukau pada dinding candi. Perpaduan teknologi dan tradisi ini merefleksikan harmoni serta toleransi yang kuat.
“Ini menjadi simbol kebersamaan dalam harmoni spiritual dan toleransi antarumat beragama,” tambah Ni Luh.
Transformasi Menuju “Living Monument”
Sejalan dengan tren pariwisata berkelanjutan, Candi Prambanan yang merupakan warisan dunia UNESCO sejak 1991 kini diproyeksikan sebagai pusat pilgrimage tourism. Dengan peningkatan jumlah umat Hindu dunia sebesar 12 persen dalam satu dekade terakhir, potensi wisata religi di Asia Pasifik menjadi peluang besar bagi Indonesia.
Selain ritual sakral, festival ini juga menggelar konferensi internasional yang menghadirkan narasumber lintas negara di Wisnu Mandala. Fokus utamanya adalah menjaga kesakralan situs sekaligus menjadikannya monumen yang hidup bagi peradaban modern.
“Kita harapkan agenda seperti Prambanan Shiva Festival ini mampu menghidupkan Candi Prambanan, bukan sekadar sebagai monumen, tetapi sebagai living monument yang kita jaga bersama kesakralannya,” pungkas Wamenpar.

