Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah menyiapkan strategi besar untuk mengunci dominasi nikel di pasar kendaraan listrik (EV) global. Skema insentif fiskal tahun 2026 akan diarahkan untuk memanjakan mobil listrik berbaterai nikel (NCM/NCA) dan mempersempit ruang gerak baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP).
Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai langkah ini sebagai “gertakan” strategis bagi para investor asing.
“Ini adalah langkah proteksionisme strategis untuk memaksa merek EV yang membangun pabrik perakitannya di Indonesia, terutama dari China, berhenti bergantung pada LFP impor dan mulai beralih ke ekosistem nikel domestik kita,” tegas Yannes, Jumat (23/1).
Kebijakan ini bertujuan mengintegrasikan industri hulu hingga hilir secara paksa namun terukur. Mengingat baterai memakan porsi 40–50 persen dari total biaya produksi, penggunaan komponen nikel lokal akan mendongkrak Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) melampaui ambang batas minimal 40 persen.
Yannes menjelaskan bahwa baterai nikel memiliki keunggulan teknis berupa densitas energi yang lebih tinggi. Hal ini memungkinkan mobil listrik buatan Indonesia memiliki spesifikasi premium dengan daya jelajah yang jauh lebih luas dibandingkan mobil berbasis LFP standar.
“Strategi ini cerdas secara makro karena memanfaatkan keunggulan densitas energi nikel untuk menjadikan mobil EV buatan Indonesia memiliki jarak tempuh lebih jauh,” tambahnya.
Meskipun lebih bertenaga, Yannes mengingatkan bahwa biaya produksi baterai nikel saat ini masih 35–40 persen lebih mahal per kWh dibandingkan LFP. Selain itu, sistem manajemen panas yang dibutuhkan jauh lebih kompleks untuk menjamin keamanan pengguna.
Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah untuk memberikan subsidi yang cukup guna menutup selisih harga tersebut. Tujuannya agar harga jual mobil listrik berbasis nikel tetap kompetitif dan terjangkau bagi kantong masyarakat lokal.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, sebelumnya telah memberikan sinyal kuat bahwa besaran insentif ke depan akan sangat bergantung pada jenis teknologi dan “isi perut” baterai yang digunakan oleh pabrikan otomotif.

