Secara harfiah dalam dunia musik, tone deaf berarti buta nada. Namun, dalam konteks dinamika sosial dan kultur media sosial modern, istilah tone deaf merujuk pada perilaku seseorang atau lembaga yang tidak peka, minim empati, serta tutup mata terhadap situasi sulit yang sedang dialami orang lain.
Fenomena ini makin sering dipakai publik sejak maraknya budaya flexing (pamer kekayaan) atau aksi pencitraan yang diluncurkan di waktu yang sangat tidak tepat.
Akar Perilaku Tone Deaf: Dari Mana Asalnya?
Berdasarkan analisis lembaga psikologi The Center for Hope WNY, perilaku tone deaf erat kaitannya dengan karakter narsisistik (narcissism).
Berikut karakteristik utama mengapa seseorang atau lembaga bisa bersikap tone deaf:
Bentuk Manipulasi Emosional: Sering kali bermanifestasi dalam tindakan mengalihkan kesalahan, memutarbalikkan fakta, hingga terkesan acuh pada penderitaan sosial.
Fokus Terlalu Egois: Hanya memandang sesuatu dari sudut pandang pribadi atau kelompoknya tanpa peduli realita luar.
Minim Efek Refleksi Diri: Ketidakmampuan melakukan introspeksi sehingga tidak sadar narasi yang dilempar justru menyakiti perasaan publik.

