“Kita harus, menurut saya bangsa Indonesia, saya percaya dengan keberanian. Keberanian berpikir, keberanian belajar dari orang lain, keberanian mengambil risiko, keberanian berbuat, keberanian mencari inovasi dan terobosan. Mungkin kita bisa dapat hal-hal yang baik,” ujarnya.
Kolaborasi Lintas Sektor
Selain inovasi, percepatan pembangunan rumah juga membutuhkan kerja sama berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah menilai penyediaan hunian tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi, melainkan memerlukan sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, perbankan Himbara, pengembang, hingga sektor swasta.
Kolaborasi tersebut disebut mencerminkan semangat Indonesia Incorporated, yakni seluruh elemen bergerak sebagai satu tim untuk memperluas akses masyarakat terhadap rumah layak huni.
“Kita ini harus jadi satu, satu tim, satu kesebelasan. Kuncinya adalah kerja sama,” kata Presiden.Ia menilai rumah merupakan kebutuhan yang sangat mendasar karena memberikan perlindungan sekaligus rasa aman bagi masyarakat. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang besar, tantangan penyediaan rumah juga semakin kompleks sehingga membutuhkan langkah yang lebih cepat dan masif.
Karena itu, pemerintah menargetkan percepatan pembangunan perumahan dilakukan melalui kombinasi inovasi, keberanian mengambil terobosan, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
“Dan saya percaya bahwa kita akan lebih deras, lebih cepat, dan lebih masif. Bangsa kita adalah bangsa yang besar. Jumlah penduduk kita besar. Masalah-masalah yang kita hadapi adalah besar,” ujar Presiden.
Program akad massal 62.000 unit KPR rumah subsidi dan KUR Perumahan senilai Rp880 miliar menjadi salah satu upaya pemerintah memperluas akses masyarakat berpenghasilan rendah terhadap pembiayaan rumah sekaligus mempercepat penyediaan hunian layak di berbagai daerah.

