“Kami berharap kolaborasi antara dunia akademik dan institusi budaya dapat memperkuat pemahaman bahwa pertahanan nasional bukan semata kekuatan fisik, tetapi juga kekuatan moral, budaya, dan identitas bangsa,” tutur Oktaheroe.
Usai dari Keraton Yogyakarta, rombongan melanjutkan kunjungan ke Monumen Jogja Kembali (Monjali). Monumen yang dibangun untuk mengenang keberhasilan merebut kembali Yogyakarta melalui Serangan Umum 1 Maret 1949 itu menjadi ruang pembelajaran mengenai sejarah perjuangan mempertahankan kedaulatan Indonesia.
Bagi mahasiswa Fakultas Strategi Pertahanan, Monjali tidak hanya menghadirkan koleksi sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga memperlihatkan bagaimana strategi militer, kepemimpinan nasional, diplomasi, dan dukungan rakyat berpadu dalam mempertahankan eksistensi negara pada masa Revolusi Kemerdekaan.
Melalui diorama, arsip sejarah, serta berbagai artefak perjuangan, mahasiswa diajak memahami bahwa kemenangan Indonesia tidak semata ditentukan oleh kemampuan tempur, melainkan juga oleh kemampuan membangun legitimasi politik, semangat kolektif rakyat, dan strategi yang adaptif menghadapi situasi perang.
Rangkaian kunjungan tersebut melengkapi pendekatan experiential learning yang diusung Fakultas Strategi Pertahanan Unhan RI selama pelaksanaan Study Visit di Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah memperoleh perspektif akademik melalui diskusi lintas disiplin dengan perguruan tinggi, mahasiswa kini diajak membaca dimensi historis dan budaya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan ketahanan nasional.
Melalui kunjungan ke institusi akademik, pusat kebudayaan, hingga situs sejarah perjuangan bangsa, Fakultas Strategi Pertahanan Unhan RI berharap mahasiswa mampu melihat pertahanan negara secara lebih komprehensif, yakni sebagai perpaduan antara kekuatan militer, kapasitas intelektual, kepemimpinan, budaya, dan karakter kebangsaan yang menjadi fondasi utama Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan strategis masa depan.

