Campak memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi. Satu kasus dapat menularkan hingga 9 dari 10 individu yang belum memiliki kekebalan. Dampaknya tidak hanya berupa gejala akut, tetapi juga komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, hingga kematian pada anak.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa penyakit menular pada anak masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi angka kesakitan di Indonesia, terutama di wilayah dengan akses layanan kesehatan terbatas.
Dengan meningkatnya mobilitas penduduk, risiko penyebaran campak juga menjadi lebih luas, terutama di kawasan padat penduduk dan wilayah dengan cakupan imunisasi rendah.
Respons Pemerintah dan Arah Kebijakan
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memperkuat program Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) sebagai langkah untuk mengejar ketertinggalan cakupan vaksinasi.
“Imunisasi adalah upaya paling efektif untuk mencegah penyakit campak dan melindungi anak dari komplikasi serius,” sebagaimana disampaikan dalam kampanye resmi Kementerian Kesehatan terkait percepatan imunisasi.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penguatan sistem surveilans dan respons cepat terhadap kejadian luar biasa (KLB) campak di berbagai daerah.
Upaya ini menjadi krusial mengingat tingginya kasus campak tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga mencerminkan ketahanan sistem layanan kesehatan dasar. Ke depan, keberhasilan pengendalian campak akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan imunisasi dan kemampuan menjangkau populasi rentan secara merata.

