Jakarta – Kabar gembira bagi para penggemar karya Dewi “Dee” Lestari. Indonesia Kaya melalui produser “Musikal Perahu Kertas”, Billy Gamaliel, menjanjikan suguhan yang berbeda dari versi layar lebar. Pementasan ini akan menjadi adaptasi murni (pure) dari novel aslinya dengan fokus utama pada perjuangan meraih mimpi, bukan sekadar romansa biasa.
“Justru kita tidak berbeda dengan novel tapi mengadaptasi murni dari novel. Jadi yang berbeda memang dari film… ini romansanya menjadi elemen sekunder,” tegas Billy saat ditemui di Jakarta, Rabu (21/1).
Imajinasi ‘Cat Air’ dan Teknologi Visual
Salah satu kejutan dalam pementasan ini adalah absennya elemen fisik “pemadam kelaparan” yang ikonik di film. Billy memberikan bocoran bahwa istilah tersebut hanya akan muncul dalam dialog, bukan sebagai dekorasi panggung.
Sebagai gantinya, tim produksi mengerahkan teknologi visual dan penggunaan boneka (puppets) untuk menghidupkan dunia imajinatif Kugy yang kental dengan nuansa cat air.
Penulis skenario, Widya Arifianti atau Bida, menambahkan bahwa mereka bekerja keras menjaga “roh” asli cerita.
“Kami ingin menjaga rohnya, ceritanya dari Ibu Dewi. Karena di sini Kugy adalah seorang pendongeng, tentu kami akan mengedepankan dunia imajinatifnya,” ungkap Bida.
Ia juga menjelaskan bahwa pemilihan adegan dilakukan langsung bersama Dee Lestari guna memastikan esensi cerita tetap terjaga meski durasi panggung terbatas.
21 Lagu dan Pengalaman Imersif
Untuk memperkuat atmosfer panggung, sebanyak 21 lagu telah disiapkan, termasuk dua single yang baru saja dirilis berjudul “Miliaran Manusia” dan “Agency”.
Berbeda dengan teater pada umumnya, pementasan ini sengaja tidak menggunakan konsep breaking the fourth wall atau interaksi langsung aktor dengan penonton. Strategi ini diambil agar audiens bisa tenggelam sepenuhnya dalam semesta Kugy dan Keenan tanpa distraksi.
Pementasan puitis ini dijadwalkan berlangsung sebanyak 21 kali mulai 30 Januari hingga 15 Februari 2026 di Ciputra Artpreneur, Jakarta.

