Jakarta – Di bawah temaram lampu panggung Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, Selasa (3/2/2) malam, sosok perempuan melangkah anggun memecah keheningan. Dee Lestari tidak datang membawa pena, melainkan suara lembut yang melantunkan bait-bait “Perahu Kertas”, lagu legendaris yang lahir dari rahim imajinasinya 15 tahun silam.
Pembukaan intim ini menandai dimulainya Musikal Perahu Kertas, sebuah persembahan kolaboratif Indonesia Kaya, Trinity Entertainment Network, dan Trinity Youth Symphony Orchestra yang dijadwalkan menghibur publik sebanyak 21 pertunjukan hingga 15 Februari mendatang.
Dongeng Kugy dan Kanvas Keenan yang Hidup Kembali
Pertunjukan berdurasi tiga jam ini menghidupkan kembali sosok Kugy, si perempuan pengkhayal yang mengaku sebagai agen Neptunus, serta Keenan, pelukis berbakat yang terjebak dalam ekspektasi keluarga.
Penonton diajak menyusuri lorong waktu, mulai dari pertemuan pertama mereka di bangku kuliah hingga dinamika hubungan yang rumit saat sosok Wanda hadir sebagai kurator galeri. Alur cerita yang runut memudahkan penikmat lama maupun penonton baru untuk menyelami pergolakan batin para karakter.
“Musikal ini menjadi bentuk terbaru dari perjalanan panjang Perahu Kertas yang sebelumnya hadir sebagai novel dan film,” ungkap salah satu penyelenggara di sela acara. Dialog yang segar dengan selipan humor ringan membuat atmosfer teater terasa cair, bahkan sesekali terdengar celetukan emosional dari bangku penonton yang larut dalam chemistry apik antarpemain.
Harmoni Orkestra dan Cahaya Perahu yang Menyala
Musik tidak sekadar menjadi pemanis, melainkan penggerak utama emosi. Iringan orkestra memberikan lapisan dramatis pada setiap konflik, terutama saat transisi adegan yang melibatkan tarian daerah dari berbagai penjuru Nusantara. Unsur budaya ini menyatu apik dengan kostum ikonik Kugy yang mencuri perhatian sepanjang babak.
Puncak emosi pecah menjelang akhir pertunjukan saat seluruh pemain berkumpul membawa perahu kertas. Secara magis, perahu-perahu tersebut menyala serempak di tengah kegelapan, menciptakan pemandangan visual yang memukau. Musikal ini berhasil membuktikan bahwa kisah tentang mimpi dan pencarian jati diri tetap relevan dan menemukan “rumah baru” yang lebih hangat di atas panggung teater.

