jakarta – Papan skor di Stadion da Luz baru saja menunjukkan menit ke-50 saat Vinicius Junior merayakan golnya dengan tarian khas yang membakar semangat pendukung Real Madrid. Namun, sukacita itu mendadak luntur.
Di tengah hiruk-pikuk Lisbon, atmosfer berubah menjadi dingin ketika dugaan kalimat rasisme meluncur dari mulut pemain Benfica, Gianluca Prestianni. Alih-alih merayakan keunggulan, laga justru membeku selama 10 menit saat protokol antirasisme diaktifkan, menyisakan luka lama yang kembali menganga di tubuh sepak bola modern.
Pelatih Real Madrid, Alvaro Arbeloa, tidak tinggal diam melihat bintang asuhannya kembali menjadi sasaran kebencian. Dengan raut wajah geram namun tetap tenang, pelatih berusia 43 tahun itu menegaskan posisi klub yang tidak akan memberi ruang bagi diskriminasi.
“Nol toleransi terhadap rasisme bersifat mutlak bagi kami. Ini sudah tahun 2026, tidak semestinya hal seperti itu terjadi di lapangan sepak bola,” ujar Arbeloa tegas melalui laman resmi Real Madrid.
Tembok Solidaritas Los Blancos
Meskipun Gianluca Prestianni membela diri dengan mengklaim tidak mengeluarkan kata-kata rasis seraya menutupi mulutnya saat insiden terjadi, dukungan internal Madrid untuk Vinicius tetap tak tergoyahkan. Arbeloa memastikan bahwa seluruh anggota tim berdiri di belakang pemain asal Brasil tersebut untuk melawan intimidasi di lapangan hijau.
“Jadi ketika ada yang bersikap seperti itu terhadap salah satu dari kami, kami akan selalu berdiri untuknya. Kami adalah tim yang solid. Kami akan selalu berjuang bersama seperti yang kami lakukan hari ini,” kata Arbeloa menambahkan.
Luka Berulang Sang Pejuang
Kepedihan Arbeloa kian mendalam mengingat Vinicius telah berulang kali menghadapi situasi serupa dalam beberapa musim terakhir. Baginya, serangan verbal ini bukan sekadar insiden pertandingan, melainkan serangan terhadap pribadi seorang pria yang ia kenal sangat rendah hati.
“Siapa pun yang mengenal Vini akan mengetahui betapa baik hatinya dan betapa sering dia harus menghadapi situasi seperti itu. Namun, Vini akan selalu menjadi seorang pejuang,” pungkas sang pelatih.
Kemenangan tipis atas Benfica ini menjadi modal berharga bagi Los Blancos menjelang leg kedua di Stadion Santiago Bernabeu. Selain membuka jalan menuju babak 16 besar, hasil ini sekaligus menuntaskan dendam atas kekalahan pahit 2-4 dari lawan yang sama pada fase liga Januari lalu.

