Jakarta – Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Kardiologi Intervensi, dr. Arwin Saleh Mangkuanom, Sp.JP (K), FIHA, memperkenalkan metode Ultra Low Contrast Percutaneous Coronary Intervention (ULC PCI) sebagai solusi inovatif bagi pasien yang menderita penyakit jantung sekaligus gangguan ginjal kronis agar terhindar dari risiko kerusakan organ lebih lanjut.
Selama ini, prosedur pembukaan sumbatan pembuluh darah atau pasang ring jantung konvensional menggunakan zat kontras dalam jumlah besar, yakni mencapai 100 cc. Bagi pasien dengan fungsi ginjal rendah (eGFR di bawah 30), cairan ini bersifat toksik dan berisiko memicu gagal ginjal akut. Metode ULC PCI hadir dengan menekan penggunaan kontras hingga di bawah 30 cc, bahkan mendekati nol.
“Secara global, sekitar satu dari tiga pasien dengan penyakit jantung juga mengalami gangguan ginjal. Jika zat kontras diberikan dalam jumlah besar pada pasien dengan laju penyaringan ginjal yang rendah, hal ini berisiko tinggi,” ujar dr. Arwin dalam keterangan resminya.
Teknologi IVUS: Mata Digital di Dalam Pembuluh Darah
Keberhasilan teknik ini bertumpu pada penggunaan Intravascular Ultrasound (IVUS). Teknologi ini memanfaatkan gelombang suara untuk memberikan gambaran visual struktur pembuluh darah secara real-time dari dalam. Dengan IVUS, tim medis dapat memandu kawat dan balon kateter menuju titik sumbatan dengan tingkat presisi mencapai 99,99 persen tanpa bergantung pada cairan kontras.
Keahlian khusus diperlukan dalam mengoperasikan IVUS agar hasil tindakan maksimal. Dr. Arwin menjelaskan bahwa cairan kontras hanya digunakan pada tahap akhir dalam jumlah yang sangat sedikit (ultra low) untuk memastikan hasil akhir tindakan sudah sempurna.
“IVUS memberikan detail struktur pembuluh darah dari dalam, jadi kita bisa bekerja dengan sangat akurat. Penggunaan kontras hanya dilakukan di tahap akhir dengan jumlah yang sangat rendah untuk memastikan hasil akhir tindakan,” ungkap dokter yang berpraktik di Siloam Hospitals TB Simatupang tersebut.
Prioritas Pasien dan Harapan Konsensus Nasional
Metode ULC PCI menjadi prioritas utama bagi pasien berisiko tinggi, seperti penderita Penyakit Ginjal Kronis (CKD), pasien dengan riwayat syok kardiogenik, hingga pasien yang mengalami komplikasi pasca-COVID-19. Selain itu, pasien dengan skor risiko tinggi berdasarkan Mehran Score juga sangat disarankan menggunakan metode ini.
Meski tergolong baru di Indonesia, Siloam Hospitals TB Simatupang telah menjadi salah satu pelopor dalam mengimplementasikan teknik modifikasi ULC PCI ini. Langkah ini diambil untuk memastikan perlindungan fungsi ginjal tanpa mengurangi efektivitas penyembuhan jantung.
“Tujuan utama kami adalah melindungi fungsi ginjal tanpa menurunkan efektivitas pengobatan jantung. Harapannya, di masa mendatang akan ada konsensus nasional agar praktik ini bisa diterapkan secara lebih luas dan terstandar,” tutup dr. Arwin.

