Jakarta – Malam yang dingin di Stadion El Sadar berubah menjadi mimpi buruk bagi sang raksasa ibu kota. Saat peluit panjang berbunyi, papan skor menunjukkan angka 2-1 untuk kemenangan tuan rumah Osasuna, meninggalkan para pemain Real Madrid yang tertunduk lesu di tengah euforia pendukung lawan.
Kekalahan ini bukan sekadar hilangnya tiga poin, melainkan sebuah tamparan keras yang menyingkap tabir kelemahan taktik di bawah asuhan Álvaro Arbeloa.
Gol pembuka dari Ante Budimir sempat dibalas oleh aksi gemilang Vinicius Junior, namun sontekan maut Raul Garcia di pengujung laga memastikan El Real pulang dengan tangan hampa. Arbeloa, yang kini memikul beban berat di kursi kepelatihan, tidak menutupi rasa kecewanya atas performa anak asuhnya yang dianggap kurang bergairah.
Penyakit Sisi Kiri dan Aliran Bola Lambat
Arbeloa menyoroti bagaimana pola serangan timnya yang sangat mudah ditebak karena terlalu bergantung pada satu sisi lapangan. Penumpukan pemain di sektor kiri membuat variasi serangan menjadi tumpul, terutama saat menghadapi lawan yang menerapkan strategi “parkir bus” atau pertahanan blok rendah.
“Pada babak pertama, kami sempat cukup menguasai permainan, tetapi kami kurang memiliki kecepatan dalam permainan saat menghadapi pertahanan rendah. Anda harus mengalirkan bola jauh lebih cepat, jika tidak mereka akan dengan mudah bertahan menghadapi Anda,” ujar Arbeloa dikutip dari laman resmi klub.
Ketergantungan pada sisi kiri ini menjadi catatan merah bagi staf kepelatihan. Mantan bek timnas Spanyol itu menegaskan bahwa tim harus lebih berani mengeksplorasi sisi kanan agar tidak mudah diantisipasi oleh lawan.
“Kami harus mampu menembus dari kedua sisi. Saat ini, sebagian besar permainan kami terfokus di sisi kiri, dan kami juga harus mampu melakukannya di sisi lain,” tambahnya.
Manajemen Risiko Cedera dan Tantangan Konsistensi
Selain masalah taktik, keputusan menarik keluar Federico Valverde juga menjadi sorotan. Langkah tersebut diambil bukan karena performa teknis, melainkan demi menyelamatkan sang gelandang dari ancaman cedera serius di tengah jadwal yang mencekik leher. Arbeloa memilih bermain aman demi menjaga ketersediaan pemain untuk laga krusial di pertengahan pekan.
“Valverde telah bekerja sangat keras dalam banyak pertandingan berturut-turut dan mengalami sedikit ketidaknyamanan. Benar atau salah, saya memilih untuk tidak mengambil risiko dengan Valverde. Setelah gol terjadi, keputusan itu diambil dengan pertimbangan untuk mencegah kemungkinan cedera,” jelas suksesor Xabi Alonso tersebut.
Menghadapi sisa musim 2025/2026, Arbeloa mengingatkan bahwa tidak ada ruang untuk rasa jemawa, terutama saat melakoni laga tandang yang selalu penuh tekanan.
“Masih banyak pertandingan tersisa, dan kami memiliki banyak ruang untuk berkembang. Ketika Anda tidak berada dalam kondisi 100 persen, siapa pun bisa mengalahkan Anda. Kami menyadari hal itu,” pungkasnya.

