Jakarta – Di tengah deretan gedung pencakar langit dan hiruk-pikuk kaum urban Jakarta, dua sosok asing tiba-tiba muncul mencuri perhatian. Bukan demonstran atau instalasi seni biasa, melainkan balon karakter “Pelangi” dan “Batik” setinggi 10 meter yang berdiri tegak di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD).
Kehadiran balon raksasa ini menjadi sinyal awal dimulainya petualangan fiksi ilmiah keluarga bertajuk “Pelangi di Mars” yang siap membawa imajinasi publik terbang jauh melampaui atmosfer bumi.
Membangun Tuan Rumah di Negeri Sendiri
Langkah menghadirkan ikon film di ruang publik ini bertujuan memperkuat pengenalan kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP) lokal kepada masyarakat luas. Produser film, Dendi Reynando, menekankan pentingnya paparan visual secara konsisten agar karya anak bangsa mampu bersaing dengan merek global yang sudah lebih dulu mendominasi.
“Jadi semakin sering terpapar, semakin bagus. Mudah-mudahan ini sebagai simbol dari IP Indonesia bisa compete dengan IP dari negara manapun karena memang semestinya kita sudah jadi tuan rumah untuk IP kita sendiri,” ungkap Dendi Reynando.
Kerja sama antara tim produksi dengan Kementerian Ekonomi Kreatif serta berbagai pihak swasta menciptakan ruang bagi industri kreatif untuk bernapas lebih lega. Kolaborasi strategis ini dipandang sebagai fondasi jangka panjang agar karakter “Pelangi di Mars” dapat berkembang menjadi sebuah ekosistem cerita yang berkelanjutan, tidak hanya berhenti di layar lebar.
Misi Penyelamatan Bumi dari Planet Merah
Di balik kemeriahan balon raksasa tersebut, sutradara Upie Guava menyimpan misi besar untuk memantik cita-cita generasi muda. Melalui teknologi Extended Reality (XR) dan animasi 3D, film ini mencoba mengisi kekosongan literasi visual bagi anak-anak Indonesia yang merangsang keinginan untuk menjadi sosok yang bermanfaat bagi dunia.
“Saya punya anak dan melihat sepertinya Indonesia kurang literasi yang memantik seorang anak ingin jadi bermanfaat, misal jadi astronot atau apa pun itu. Film ‘Pelangi di Mars’ ini dibuat hanya dengan alasan itu,” tutur Upie Guava.
Film yang dibintangi oleh Rio Dewanto, Lutesha, hingga Livy Renata ini mengambil latar tahun 2100 saat Bumi dilanda krisis air parah. Pelangi, manusia pertama yang lahir di Mars, harus berjuang melawan korporasi jahat demi menemukan mineral langka penyelamat masa depan.
Rencananya, kisah heroik ini akan menyapa penonton di bioskop pada momen Lebaran 2026 mendatang.

