Jakarta – Kegagalan Italia di playoff Piala Dunia memicu gelombang protes keras dari berbagai kalangan, termasuk mantan kiper Timnas Italia, Emiliano Viviano.
Viviano melontarkan kritik tajam terhadap Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Gabriele Gravina, yang tetap bersikeras menduduki kursinya meski Gli Azzurri kembali absen di turnamen sepak bola terbesar sejagat tersebut.
Desakan Mundur untuk Gabriele Gravina
Viviano memandang sikap keras kepala Gravina sebagai bentuk kegagalan moral yang nyata. Menurutnya, kegagalan fatal di babak kualifikasi seharusnya berujung pada pengunduran diri secara terhormat. Viviano bahkan menilai langkah mundur saja belum cukup untuk menebus kekecewaan publik sepak bola Italia yang sangat mendalam.
“Sungguh tidak masuk akal bagi saya bahwa presiden federasi belum mengundurkan diri. Jika berada dalam posisi Gravina, saya akan memilih untuk meninggalkan negara ini,” tegas Viviano saat berbicara kepada Radio Firenzeviola.
Ketegasan Viviano mencerminkan amarah publik yang merasa FIGC tidak memiliki rasa tanggung jawab atas kemerosotan prestasi tim nasional. Tekanan terhadap Gravina terus meningkat, namun hingga saat ini, sang presiden federasi belum menunjukkan tanda-tanda akan melepas jabatannya.
Bobroknya Sistem Pembinaan Usia Muda
Selain menyerang pucuk pimpinan federasi, Viviano membongkar akar permasalahan sepak bola Italia yang bermula dari level akar rumput. Sebagai orang tua yang mendampingi anaknya di dunia sepak bola usia dini, ia melihat kurikulum akademi di Italia sudah kehilangan esensi dasar dalam membangun kualitas pemain masa depan.
Viviano menilai akademi sepak bola saat ini hanya mementingkan hasil akhir jangka pendek daripada pengembangan teknik dan mentalitas pemain. Paradigma “menang atau kalah hari ini” dianggap merusak fondasi olahraga di Italia yang dulunya sangat disegani.
“Kami adalah salah satu negara terbaik dalam olahraga, namun di akademi sepak bola, tidak ada yang dibangun atau diajarkan. Semua hanya tentang ‘hari ini saya menang, hari ini saya kalah’, dan tidak lebih dari itu,” pungkasnya.
Kritik pedas ini memperjelas bahwa masalah sepak bola Italia bukan sekadar hasil buruk di lapangan, melainkan adanya kerusakan sistemik dari tingkat manajemen hingga pola pembinaan pemain muda.

