Jakarta – Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) memprediksi industri roda dua nasional tetap tumbuh subur pada 2026.
Meski optimis, AISI mengingatkan adanya sejumlah tantangan serius yang membayangi pasar domestik, mulai dari kebijakan pajak hingga kondisi geopolitik global.
Ketua Bidang Komersial AISI, Sigit Kumala, menyoroti pemberlakuan pajak opsen di berbagai daerah sebagai tantangan terberat saat ini.
Ia berharap pemerintah daerah memberikan insentif agar kenaikan pajak tidak memicu lonjakan harga yang dapat mematikan daya beli konsumen.
“Kami memahami kebutuhan pendapatan daerah, namun kami berharap ada kompensasi agar tidak ada kenaikan pajak kendaraan yang langsung memukul permintaan pasar,” ujar Sigit dalam keterangan resminya, Jumat (9/1).
Selain faktor regulasi, gejolak geopolitik global dan fluktuasi harga komoditas turut menjadi hambatan. Faktor cuaca juga diprediksi memengaruhi stabilitas ekonomi masyarakat bawah.
Meski demikian, AISI mematok target penjualan yang realistis di angka 6,4 juta hingga 6,7 juta unit untuk tahun ini.
Peran perusahaan pembiayaan (leasing) menjadi kunci utama pertumbuhan. Mengingat 65% pembelian motor di Indonesia menggunakan skema kredit, sektor pembiayaan menjadi tulang punggung yang menjaga ritme pasar.
Sepanjang 2025, AISI mencatat realisasi penjualan mencapai 6.412.769 unit, dengan rata-rata penjualan bulanan menyentuh 535.000 unit.
Data AISI menunjukkan dominasi mutlak motor skutik yang menguasai 91,7% pasar. Sementara itu, motor bebek (underbone) menyumbang 4,46%, tipe sport 3,51%, dan motor listrik masih berjuang di angka bawah 1%. Sigit optimis bahwa efisiensi sepeda motor sebagai alat transportasi produktif akan terus menggerakkan roda ekonomi nasional.

