Jakarta – Honor resmi mengguncang pasar fotografi seluler dengan meluncurkan Magic8 Pro Professional Imaging Kit hasil kolaborasi bersama Telesin guna mengubah perangkat flagship tersebut menjadi kamera profesional berkekuatan lensa tele efektif 200mm.
Paket inovatif ini mencakup casing khusus dengan ulir filter 67mm, lensa extender telephoto 2.35x, serta grip kamera magnetik yang mendukung konektivitas Bluetooth untuk memudahkan mobilitas fotografer mobile.
Teknologi Lensa Tele dan Grip Magnetik Universal
Inti dari kit ini adalah lensa extender 2.35x yang mampu mendongkrak kemampuan lensa zoom 85mm bawaan Magic8 Pro hingga mencapai titik fokus efektif 200mm. Perangkat ini memiliki bobot 207 gram, sedikit lebih ringan dibandingkan kompetitor utamanya, Vivo X200 Ultra.
Menariknya, Honor menyertakan grip kamera yang bersifat universal berkat teknologi magnetik Qi2/MagSafe, sehingga dapat digunakan pada berbagai merk ponsel lain.
Grip tersebut dilengkapi tombol rana dua tahap, dial kontrol, tuas zoom, serta tombol rekam khusus.
Sistem magnetik ini memungkinkan transisi instan antara mode lanskap dan potret tanpa perlu melepas tuas pengunci yang merepotkan.
Update Firmware dan Rekor Stabilisasi CIPA 6.5
Bersamaan dengan peluncuran aksesori, Honor turut merilis pembaruan firmware yang meningkatkan sistem stabilisasi kamera utama dan telephoto hingga mencapai peringkat CIPA 6.5. Angka ini diklaim sebagai peringkat stabilisasi tertinggi yang pernah ada pada sebuah smartphone saat ini.
Pembaruan tersebut mengintegrasikan logika adaptif gerak dan kecerdasan situasional untuk meminimalisir motion blur pada kondisi minim cahaya.
Selain itu, Honor memperkenalkan AiMAGE Color Engine terbaru untuk menghasilkan reproduksi warna yang lebih autentik. Pengguna yang menggunakan lensa tambahan diwajibkan mengaktifkan mode teleconverter pada antarmuka kamera agar tampilan gambar tidak terbalik.
Uji coba menunjukkan bahwa kombinasi kit ini mampu menghasilkan foto digital zoom hingga 400mm dengan kualitas yang tetap terjaga sebelum mencapai batas degradasi digital.

