Jakarta – Aroma amis telur menyengat di sepanjang Via Allegri, Roma, saat fajar menyingsing menyinari sisa-sisa amarah semalam. Tembok kokoh markas besar Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) kini penuh noda kuning dan coretan vandalisme setelah drama tragis di lapangan hijau berakhir memilukan.
Kekalahan memalukan Azzurri dalam laga Final Play-off Piala Dunia melawan Bosnia dan Herzegovina menyulut api kekecewaan para tifosi hingga meledak menjadi aksi anarki di pusat kota.
Tekanan Mundur dan Protes Spanduk
Presiden FIGC, Gabriele Gravina, mendapati pemandangan suram saat tiba di kantor pada Rabu pagi. Seorang penggemar fanatik berdiri tegak membentangkan spanduk berisi desakan pengunduran diri tepat di depan pintu masuk. Tragedi ini menandai kali ketiga tim nasional Italia gagal menembus putaran final Piala Dunia, sekaligus kali kedua kegagalan terjadi dalam masa kepemimpinan Gravina.
Meskipun gelombang protes terus meninggi, Gravina sempat menyatakan penolakan untuk menanggalkan jabatannya pada malam kejadian. Namun, tekanan publik memaksa otoritas tertinggi sepak bola Italia tersebut bergerak lebih cepat.
Desakan Tanggung Jawab dari Pemerintah
Suara sumbang tidak hanya berasal dari pinggir jalan, namun merambah hingga kursi pemerintahan. Menteri Olahraga Andrea Abodi secara terbuka menuntut pertanggungjawaban nyata dari pucuk pimpinan federasi. Abodi menilai hasil mengecewakan ini merupakan titik nadir sepak bola Italia perlu evaluasi total.
Kekecewaan domestik semakin menguat seiring rentetan hasil buruk terus menghantui skuad biru langit dalam beberapa tahun terakhir. Abodi mendesak Gravina segera mengakui kegagalan sistematis ini demi menyelamatkan martabat olahraga nasional. Publik kini menanti hasil keputusan rapat besar hari Kamis guna menentukan arah baru sepak bola Italia pasca bencana kontra Bosnia.

