Jakarta – Ghost in the Cell menjadi film horor terbaru dari Joko Anwar yang mengangkat isu sistem sosial busuk melalui visual poster unik penderita trypophobia.
Sutradara kondang Joko Anwar mengungkapkan fakta mengejutkan di balik proses kreatif poster film terbarunya, Ghost in the Cell. Meski poster tersebut menampilkan visual penuh lubang yang memicu kengerian, Joko Anwar dan produser Tia Hasibuan dari Come and See Pictures ternyata merupakan pengidap trypophobia akut atau ketakutan berlebih pada kumpulan lubang kecil.
“Aku sama Tia adalah penderita trypophobia akut,” ujar Joko Anwar.
Pilihan visual yang menantang rasa takut sendiri ini bukan tanpa alasan. Visual lubang pada poster tersebut merupakan metafora mendalam mengenai bobroknya sistem sosial. Rasa jijik yang muncul saat audiens melihat poster tersebut menjadi refleksi dari kejenuhan masyarakat terhadap ketidakadilan sistem yang ada.
Metafora Sistem Sosial yang Busuk
Setiap lubang pada tubuh karakter hantu dalam film ini mengandung makna filosofis. Alih-alih kosong, lubang tersebut berisi representasi karakter-karakter yang terpenjara oleh sistem tertentu tanpa menyadari bahwa hal tersebut adalah ancaman nyata.
“Hantu ini sebenarnya mewakili sesuatu yang tidak kita pahami. Kita sering melabeli sesuatu sebagai hantu atau ancaman kalau kita tidak paham. Kalau merasa jijik dengan itu, kita jijik sama keadaan di dalamnya. Itu poinnya,” ungkap Joko Anwar.
Simbol Harapan di Tengah Kengerian
Menariknya, Joko Anwar berusaha melawan fobianya dengan menyisipkan sisi estetis. Setiap lubang pada tubuh hantu digambarkan mengeluarkan bunga seroja atau tumbuhan sebagai simbol harapan (hope).
Melalui elemen ini, film ingin menunjukkan bahwa selalu ada titik terang bahkan dalam kondisi paling mengerikan sekalipun.
“Setiap bolong-bolong itu mengeluarkan tumbuhan. Jadi itu adalah hope. Jadi kita mau semuanya menunjukkan ada arti,” tutur sang sutradara.
Film Ghost in the Cell memosisikan sosok hantu bukan sekadar entitas mistis, melainkan representasi psikologis dari sisi terburuk manusia, seperti korupsi dan hilangnya harapan. Karya terbaru ini dijadwalkan menyapa penonton di seluruh jaringan bioskop Indonesia mulai 16 April mendatang.

