Jakarta, Rasional.co – Pelaku usaha rotan dan batik di Surakarta menempuh strategi berbeda untuk memperluas pasar. Reka Design memperkuat ekspor furnitur rotan sekaligus mengembangkan desain, sedangkan Toko Sudagaran menyiapkan jenama baru dengan warna cerah dan model kasual untuk menarik konsumen muda.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa produk berbasis kerajinan lokal tidak hanya bergantung pada kekuatan tradisi. Adaptasi desain, pemilihan segmen konsumen, dan kemampuan membaca pasar menjadi bagian penting untuk menjaga daya saing.
Reka Design yang berlokasi di Desa Trangsan, Sukoharjo, telah menembus pasar Eropa dan Amerika melalui produk furnitur berbahan rotan. Pemilik Reka Design, Suryanto, kini melihat ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 sebagai peluang untuk memperluas pasar ekspor dan meningkatkan popularitas produk rotan Indonesia di kalangan buyer internasional.
Suryanto juga tertarik memanfaatkan pendampingan pengembangan desain melalui Indonesia Design Development Center (IDDC). Fasilitasi tersebut dinilai dapat membantu Reka Design terus mengembangkan desain produknya agar semakin kompetitif di pasar global.
Reka Design merupakan salah satu pelaku industri di Desa Trangsan yang dikenal sebagai Desa Devisa Rotan. Pengembangan pasar ekspor tidak hanya berdampak pada perusahaan, tetapi juga melibatkan ratusan perajin yang tersebar di desa tersebut serta menyerap bahan baku rotan.
Ekspansi pasar juga perlu diikuti keberlanjutan keahlian perajin dan rantai pasok bahan baku. Ketersediaan rotan antardaerah menjadi salah satu faktor yang menentukan kemampuan industri mempertahankan produksi dan memenuhi permintaan pasar mancanegara.
- Baca juga: 80,6% Warga RI Sudah Online, Wamen Nezar Patria: Jadilah Pemain, Bukan Sekadar Pasar Digital
Di sektor batik, strategi berbeda diterapkan Toko Sudagaran Laweyan. Usaha yang selama ini menjual batik tulis premium dengan corak khas Surakarta tersebut tengah menyiapkan jenama baru bernama Kultur Jawa untuk menyasar generasi muda.
Pemilik Toko Sudagaran Laweyan, Hapsari Chandra Dewi, mengatakan Kultur Jawa akan menawarkan pendekatan yang lebih dekat dengan selera konsumen muda, terutama melalui pilihan warna yang lebih cerah dan model pakaian yang kasual.
“Kami membuat jenama kedua, yaitu Kultur Jawa yang menargetkan pembeli muda dengan selera warna-warna lebih cerah dan dengan model pakaian yang lebih kasual,” ucap Hapsari.
Menurut Hapsari, strategi tersebut menjadi cara untuk membuat batik tetap relevan dan diterima oleh konsumen dari berbagai kelompok usia. Dengan pendekatan desain dan jenama yang berbeda, batik diharapkan tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga terus memiliki pasar.
Strategi ekspansi pasar kedua usaha tersebut akan dibawa dalam rangkaian TEI 2026. Reka Design akan berpartisipasi bersama HIPMI Surakarta, sementara sejumlah UMKM batik dari Surakarta juga dipersiapkan mengikuti pameran dagang tersebut.
Produk batik dari kawasan Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman sebelumnya telah menjangkau buyer dari Asia Tenggara, Jepang, hingga Eropa. Pengalaman tersebut menjadi modal untuk memperluas pasar sekaligus memperkuat posisi batik Surakarta sebagai produk berbasis budaya yang memiliki nilai ekonomi.
Surakarta menyiapkan delapan UMKM untuk berpartisipasi dalam TEI 2026. Produk yang ditampilkan didominasi batik, dengan fokus pada pengembangan dan pelestarian batik tulis.
Dua pendekatan tersebut memperlihatkan cara berbeda UMKM mempertahankan daya saing produk lokal. Rotan mengandalkan perluasan pasar ekspor dan penguatan desain, sementara batik mengembangkan segmen konsumen baru melalui pembaruan jenama, warna, dan model tanpa meninggalkan identitas budaya.
Paparan strategi pelaku usaha itu mengemuka saat Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri meninjau langsung Reka Design di Desa Trangsan serta sentra batik di Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman, Surakarta, Jumat (4/9/2026), untuk melihat kesiapan UMKM menghadapi TEI 2026.
Khusus produk rotan, Roro menyoroti efek pengganda industri terhadap masyarakat Desa Trangsan, termasuk keterlibatan ratusan perajin, penyerapan tenaga kerja, dan penggunaan bahan baku lokal. Sementara untuk batik, ia menilai pengalaman UMKM Surakarta membangun kemitraan dengan buyer dari Asia Tenggara, Jepang, hingga Eropa menunjukkan bahwa produk berbasis budaya dapat dikembangkan menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi.
Dukungan terhadap pengembangan pasar tersebut juga datang dari Pemerintah Kota Surakarta. Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mengatakan delapan UMKM dari Surakarta akan berpartisipasi dalam TEI 2026, dengan mayoritas produk yang dibawa berupa batik.
Menurut Astrid, perluasan pasar tidak harus menghilangkan karakter produk lokal. Pemerintah daerah ingin produk yang dipromosikan tetap mempertahankan unsur handmade dan kultur asli Surakarta.

