Jakarta – Lampu stadion baru saja menyala terang dan aroma rumput basah mulai tercium saat Riccardo Calafiori tiba-tiba menepi, memegangi ototnya yang terasa kaku. Alih-alih berlari menyisir sisi lapangan melawan Wigan Athletic, bek asal Italia itu justru harus kembali ke ruang ganti dengan wajah lesu.
Drama singkat di sesi pemanasan tersebut sempat memicu kekhawatiran massal di tribun penonton, namun kini kepastian datang bahwa sang pemain telah siap mengawal lini belakang Arsenal untuk menjamu Wolverhampton Wanderers pada Kamis (19/2) dini hari WIB.
Kabar pulihnya Calafiori menjadi angin segar bagi publik London Utara. Mengutip laporan Sky Sport, pemain ini sebelumnya terpaksa mundur dari susunan pemain utama dalam ajang Piala FA pada Minggu (15/2) akibat gangguan fisik mendadak. Kasus ini menambah daftar panjang fenomena “cedera sesaat sebelum sepak mula” yang menghantui skuad Meriam London sepanjang musim ini.
Misteri Cedera Sesaat Sebelum Laga
Catatan medis tim menunjukkan bahwa insiden Calafiori merupakan kali keempat pemain Arsenal tumbang tepat sebelum pertandingan dimulai.
Rentetan nasib sial ini bermula dari William Saliba yang mengalami masalah pergelangan kaki sebelum laga kontra Liverpool pada September, disusul mundurnya Bukayo Saka saat melawan Leeds di bulan Januari, serta kendala serupa yang menimpa Calafiori sebelumnya pada bulan Desember lalu.
Mikel Arteta menegaskan bahwa staf pelatih tengah melakukan evaluasi mendalam terhadap rutinitas fisik tim. Pelatih asal Spanyol tersebut mengakui bahwa frekuensi insiden musim ini sangat tidak wajar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Mungkin itu hanya terjadi sekali atau dua kali dalam enam tahun saya di sini, dan sekarang terjadi empat kali. Jadi jelas kami sedang melihatnya,” ujar Arteta.
Strategi ‘Bagaimana Jika’ Ala Arteta
Tim pelatih kini menjadikan sesi pemanasan sebagai ujian akhir untuk menentukan kelayakan pemain. Kasus Bukayo Saka menjadi yang paling membekas bagi tim medis karena terjadi tanpa tanda-tanda kelelahan sebelumnya. Arteta mengungkapkan bahwa ketidakpastian ini menuntut kesiapan mental yang lebih tinggi bagi seluruh anggota tim untuk mengubah rencana permainan secara kilat.
“Bukayo sangat tidak terduga karena dia tidak pernah memberi gejala atau sinyal bahwa ini bisa terjadi saat pemanasan. Tetapi memang begitulah adanya. Kami harus belajar,” kata Arteta saat menjelaskan situasi tak terduga tersebut.
Perubahan komposisi pemain di menit-menit akhir memaksa Arsenal untuk selalu memiliki rencana cadangan yang matang. Arteta menilai timnya harus lebih adaptif dalam menghadapi segala skenario liar di lapangan hijau.
“Anda harus berpikir ‘bagaimana jika, bagaimana jika’ dan semakin banyak kemungkinan tepat sebelum pertandingan dan juga selama pertandingan. Jadi Anda hanya perlu lebih siap,” pungkas Arteta.

