Jakarta – Aroma gurih pecel ayam di sebuah warung tenda menjadi saksi bisu lahirnya sebuah mimpi besar. Di sela-sela suapan nasi hangat, sebuah celetukan spontan dari seorang sahabat terlontar begitu saja, mendoakan agar sang instruktur tari melangkah ke layar lebar di bawah arahan sutradara kondang, Joko Anwar.
Siapa sangka, “amin” yang terucap di atas piring plastik itu berbuah manis menjadi peran utama dalam film horor terbaru bertajuk Ghost in the Cell.
Magistus Miftah, sang instruktur tari yang kini resmi menyandang status aktor, berhasil menyingkirkan ratusan pendaftar dalam proses audisi yang ketat. Film hasil karya rumah produksi Come And See Pictures ini dijadwalkan menghantui bioskop mulai 16 April mendatang.
Keajaiban Manifestasi dan Kecurigaan Naskah
Karier seni peran ini dimulai saat iklan pencarian pemain muncul di media sosial, tepat sebulan setelah obrolan di warung pecel ayam tersebut. Miftah merasa kriteria karakter yang dicari sangat identik dengan kepribadiannya.
“Aku merasa kayak… Aku dilahirkan untuk ini. Oh, ini aku. Kayaknya ini abang (Joko Anwar) nyari aku nih,” ucap Miftah.
Namun, rasa percaya diri itu sempat berubah menjadi ketakutan saat proses pembacaan naskah dimulai. Miftah mengaku terkejut karena detail karakter Novilham yang diperankannya sangat mirip dengan kehidupan pribadinya. Kecurigaan sempat muncul bahwa tim produksi telah memantau kesehariannya secara diam-diam.
“Ternyata memang skripnya sudah ada jauh lebih lama dari audisi aku. Tapi begitu aku baca, kayak, ‘ini aku banget’, gitu. Dan itu seram sih. Aku rasanya kayak takut kayak, ‘nih aku lagi dipantau ya’,” jelasnya.
Membawa Ritual Tari ke Dalam Sel
Keunikan akting Miftah semakin menonjol ketika Joko Anwar memberikan kebebasan penuh untuk mengeksplorasi karakter. Sang sutradara meminta agar istilah-istilah unik yang biasa digunakan Miftah saat mengajar tari dimasukkan ke dalam dialog agar terasa lebih natural dan tidak kaku.
Miftah akhirnya membawa narasi unik seperti “keramas, sabunan, hingga tetes gedes” ke dalam adegan koreografi tari di dalam sel penjara. Istilah-istilah murni dari dunianya sebagai pengajar tari ini dipastikan telah melewati kurasi agar tetap sopan dan aman dari sensor.
“Jadi itu memang yang Abang (Joko Anwar) minta kan, untuk kayak, ‘apa ada istilah-istilah yang emang sering dipakai, yang kira-kira lucu’,” cerita Miftah mengenai proses kreatif di lokasi syuting.
Kehadiran istilah nyeleneh tersebut kini dapat disaksikan melalui cuplikan resmi (trailer) yang telah dirilis, menambah warna unik pada atmosfer horor yang dibangun oleh Joko Anwar.

