Jakarta – Honda Prelude 2026 akhirnya bangkit dari tidur panjangnya dengan desain futuristik yang memukau. Namun, kemunculannya justru memicu perdebatan panas di jagat maya akibat label harga 42.000 USD atau sekitar Rp660 juta yang dinilai tidak sebanding dengan tenaga 200 HP yang dihasilkannya.
Kembalinya sang legenda ini terasa kontroversial karena output performanya identik dengan Civic Hybrid yang jauh lebih murah, padahal publik mengharapkan lonjakan tenaga lebih agresif untuk sebuah kupe sport legendaris.
Rumitnya Arsitektur Hybrid Tiga Komponen
Kekecewaan penggemar berakar pada angka di atas kertas, tenaga 200 HP tersebut tidak berubah sejak model terakhirnya tahun 2001. Namun, pihak Honda menegaskan bahwa menambah tenaga pada sistem hybrid dua motor milik Prelude tidak semudah membalik telapak tangan atau sekadar melakukan remapping mesin.
Sistem ini mengandalkan sinergi antara mesin 2,0 liter, motor listrik, dan baterai, di mana mesin bensin lebih sering berfungsi sebagai generator daripada penggerak roda langsung.
Asisten Pemimpin Proyek Besar Powertrain Honda, Yoshiharu Saito, menjelaskan bahwa peningkatan performa memerlukan perombakan total pada seluruh ekosistem penggerak.
“Untuk membuatnya lebih cepat, ketiga komponen [mesin, motor listrik, dan baterai] perlu ditingkatkan. Meningkatkan hanya satu bagian saja akan menjadi tantangan karena keseimbangan sistem adalah kuncinya,” ujar Saito dalam acara uji kendara perdana baru-baru ini.
Filosofi Pengendalian di Atas Kecepatan Garis Lurus
Meski kalah dalam adu tenaga maksimal, Prelude 2026 unggul dalam sektor torsi yang mencapai 232 lb-ft, jauh melampaui model lawasnya. Honda memosisikan mobil ini sebagai ‘momentum car’ yang mengutamakan kelincahan di tikungan daripada kecepatan di lintasan lurus.
Hal ini dibuktikan dengan penyematan sistem suspensi dan perangkat pengereman yang diadopsi langsung dari Civic Type R, meskipun disetel dengan karakter yang lebih lembut untuk kenyamanan harian.
Saito menegaskan bahwa karakter berkendara yang dihasilkan sudah sesuai dengan visi awal tim pengembang.
“Bagaimana saya merancang Prelude adalah persis seperti yang dimaksudkan. Mungkin di atas kertas ‘hanya’ memiliki 200 hp, tetapi rasa berkendaranya adalah apa yang saya bidik,” pungkasnya.
Menariknya, fitur S+ Shift pada mobil ini mampu mensimulasikan delapan percepatan untuk memberikan sensasi manual bagi pengemudi, meski sistem akan kembali ke mode otomatis secara mandiri demi menjaga efisiensi baterai.

