Jakarta – Ghost in the Cell Joko Anwar menghadirkan aksi laga ekstrem dan tantangan fisik luar biasa bagi para pemainnya, termasuk Abimana Aryasatya dan Morgan Oey. Film thriller terbaru ini menjanjikan pengalaman sinematik yang intens melalui teknik pengambilan gambar panjang tanpa jeda.
Tantangan Laga 15 Menit Tanpa Jeda
Aktor utama Abimana Aryasatya mengungkapkan kesulitan saat mengeksekusi adegan perkelahian di dalam penjara. Pemeran karakter Anggoro tersebut harus menuntaskan koreografi laga sepanjang 15 halaman skrip secara nonstop. Proses perekaman ini menuntut konsentrasi tinggi karena menggabungkan berbagai elemen teknis dalam satu waktu.
“Cukup menantang karena kita harus mencampur banyak elemen. Kita mengambil keseluruhan adegan itu cukup panjang, jadi tidak bisa dilihat dari sisi laganya saja,” ujar Abimana.
Seluruh kru dan pemain mengerahkan tenaga ekstra demi memastikan adegan kolosal di penjara tersebut tampil sempurna. Kerja keras ini menjadi tulang punggung narasi visual yang ingin dicapai oleh tim produksi.
Perpaduan Komedi dan Metafora Sistem
Selain aksi murni, Morgan Oey yang memerankan tokoh Bimo, membagikan pengalamannya mengolah ekspresi dalam komedi laga. Menurutnya, genre ini memerlukan detail wajah yang komikal untuk menghidupkan suasana tanpa menghilangkan dampak dari aksi fisik tersebut.
“Komedi laga harus ada ekspresi yang komikal untuk menambah kesan komedinya. Itu cukup sulit. Kesan pertama saya saat membaca naskah adalah ini akan menjadi kerja keras, dan ternyata benar,” ungkap Morgan.
Sutradara Joko Anwar mengembangkan cerita ini sejak 2018 dengan menggunakan penjara sebagai metafora pembatasan ruang gerak warga oleh sistem. Untuk mendukung visi tersebut, tim produksi membangun set lembaga pemasyarakatan fiktif secara mandiri guna mendapatkan atmosfer yang diinginkan. Film yang diklasifikasikan untuk usia 17 tahun ke atas ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 16 April 2026.

