Jakarta – Film horor komedi Ghost in the Cell karya sutradara Jojo Anwar siap menggebrak bioskop dengan menonjolkan kolaborasi lintas profesi dan talenta kreatif kelas dunia. Karya terbaru ini mengusung misi sebagai wadah pameran kemampuan para pekerja seni Indonesia, mulai dari aktor, penari, hingga ilustrator Marvel dan DC, yang akan tayang perdana pada 16 April 2025.
Kolaborasi Lintas Profesi dalam Satu Layar
Sutradara Joko Anwar sengaja mengumpulkan berbagai talenta dari latar belakang profesi yang berbeda untuk menghidupkan karakter dalam Ghost in the Cell. Langkah ini bertujuan membuktikan bahwa kualitas pekerja kreatif Indonesia sangat luas dan tidak terbatas pada industri akting murni saja.
“Pemeran film ini datang dari berbagai profesi. Tidak hanya murni aktor, tapi ada sinematografer, penari dan pembaca tarot, pelatih akting, komedian, dan ada banyak lagi,” ujar Joko Anwar saat acara pemutaran film di Jakarta, Kamis.
Sederet nama besar dan unik mengisi daftar pemain, seperti sinematografer Jaisal Tanjung, penari sekaligus pembaca tarot Magistus Miftah, serta pelatih akting Faiz Vishal. Unsur komedi dalam film ini juga semakin kental berkat kehadiran Aming, Tora Sudiro, dan Danang Suryonegoro.
Melibatkan Ilustrator Kelas Dunia untuk Adegan Kematian
Tidak hanya di depan layar, kekuatan visual Ghost in the Cell juga mengandalkan tangan dingin enam ilustrator berbakat Indonesia. Para ilustrator ini sebelumnya memiliki rekam jejak mentereng di studio global sekelas DC dan Marvel. Joko Anwar memberikan ruang khusus bagi mereka untuk merancang estetika visual yang mencekam namun artistik.
“Setiap kematian itu didesain oleh satu orang ilustrator. Mereka adalah ilustrator-ilustrator yang sudah banyak bekerja di luar negeri, tapi namanya mungkin sebagian kecil aja yang tahu,” jelas Joko.
Penggunaan jasa ilustrator kelas dunia ini menjadi strategi Joko untuk memberikan pengalaman menonton yang berbeda. Sutradara kawakan ini berharap film tersebut mampu memperkenalkan sosok-sosok di balik layar kepada publik secara lebih luas.
“Mereka kita tampilkan di sini karena kita kepingin ‘Ghost in the Cell’ bisa menjadi showcase untuk semua orang-orang yang bertalenta di Indonesia,” tambahnya.

