Jakarta – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan pentingnya industri film sebagai instrumen diplomasi budaya Indonesia di kancah internasional saat menghadiri pemutaran film kolosal Taj Mahal: An Eternal Love Story. Fadli menilai medium seluloid efektif memperkenalkan identitas bangsa karena merangkum berbagai unsur seni dan tradisi dalam satu kemasan visual yang universal.
“Saya pikir itu sangat penting karena film berbicara dengan sendirinya. Film berakar pada budaya,” ujar Fadli Zon di hadapan awak media.
Menurutnya, film bukan sekadar hiburan, melainkan wadah integrasi elemen budaya mulai dari bahasa, sastra, tarian, seni peran, musik, hingga tren kuliner dan fesyen. Keberagaman unsur inilah yang membuat sinema layak disebut sebagai jembatan penghubung antarperadaban.
Jembatan Budaya Indonesia-India
Fadli Zon memberikan apresiasi khusus terhadap penayangan film India di Indonesia sebagai bentuk nyata pertukaran budaya. Film Taj Mahal: An Eternal Love Story karya sutradara Akbar Khan menjadi contoh bagaimana sejarah dan warisan dunia (heritage) dapat dikomunikasikan secara emosional kepada publik global.
“Saya kira ini film yang luar biasa secara teknis, kolosal, ditulis dengan sangat serius. Ini adalah satu film yang penuh dengan sejarah, pesan-pesan moral, cinta, kasih sayang, yang juga menjembatani Indonesia (dengan India),” imbuh sang Menteri.
Potensi Kolaborasi dan Edukasi Sineas
Kehadiran film-film mancanegara yang berkualitas diharapkan mampu memberikan alternatif tontonan sekaligus ruang belajar bagi sineas lokal. Mengingat kedekatan historis dan budaya antara Indonesia dan India, Fadli berharap kolaborasi di sektor perfilman semakin intensif di masa depan.
“Ke depan semoga bisa menjadi salah satu alternatif untuk menonton dan kita juga saling belajar. Kita mempunyai hubungan yang baik dengan India, secara budaya juga dekat. Ini bisa menjadi salah satu jembatan diplomasi kita,” pungkasnya.

